WELCOME TO WEBSITE CERITA-CERITA SEX (SEX STORY) AND SEX EDUCATION. THANKZ FOR YOUR READ MY POST ABOUT VIDEO AND CERITA SEX, DOWNLOAD VIDEO SEX. Free Download sex video, download sex movie, download porn movie, free download video sex, download video mesum, download film bokep gratis, download bokep cina, download bokep jepang, download video mesum gratis. KEEP THIS SITE JUST AT http://vagina-oversize.blogspot.com/

Rabu, 17 Juni 2009

Cerita Sex Pengantin Baru

haloo semuanyaa, apa kabar..?? dah lama nih gag posting cerita cerita sex dan cerita cerita dewasa. cz baru sempet online lagii kemarin sibuk kerja. hehehe
Cerita Sex kali ini tentang seorang pengantin baru, gimana ceritanya kita langsung baca aja.
Rina mematut diri di depan cermin. Ini adalah hari yang paling dinantikannya, hari pernikahannya. Ada banyak alasan mengapa akhirnya dia bersedia menikah dengan Hans. Dan seks adalah salah satunya, meskipun Hans hanya mempunyai sebuah penis yang kecil saja. Namun seks dengan lelaki lain menjadi jauh lebih menyenangkan meskipun sejak Hans telah menyematkan sebuah cincin berlian di jarinya. Dia merasa bersalah dan membutuhkannya dalam waktu yang bersamaan, setiap kali dia merasakan cincin tersebut di jarinya saat lelaki lain sedang menyetubuhi vaginanya yang dijanjikannya hanya untuk Hans.
Dia ingat saat malam dimana Hans melamarnya. Dia tersenyum, mengangguk dan berkata ‘ya’, menciumnya dan menikmati bagaimana nyamannya rasa memakai cincin berlian yang sangat mahal tersebut. Dan setelah makan malam bersama Hans itu, dia langsung menghubungi Alan, begitu mobil Hans hilang dari pandangan, mengundangnya datang ke rumah kontrakannya. Rina menunggu Alan dengan tanpa mengenakan selembar pakaian pun untuk menutupi tubuhnya yang berbaring menunggu di atas tempat tidurnya, cincin berlian yang baru saja diberikan oleh Hans adalah satu-satunya benda yang melekat di tubuh telanjangnya.
Ada desiran aneh terasa saat matanya menangkap kilauan cincin berlian itu sewaktu tangannya menggenggam penis gemuk Alan. Tubuhnya tergetar oleh gairah liar saat tangannya mencakup kedua payudaranya dengan sperma Alan yang melumuri cincin itu. Dan orgasme yang diraihnya malam itu, yang tentu saja bersama lelaki lain selain tunangannya, sangat hebat. Tangan yang tak dilingkari cincin menggosok kelentitnya dengan cepat sedangkan dia menjilati sperma Alan yang berada di cincin berliannya. Dia menjadi ketagihan dengan hal ini dan berencana akan melakukannya lagi nanti pada waktu upacara perkawinannya nanti.
Saat ini, dia memandangi pantulan dirinya di dalam cermin sedang mengenakan gaun pengantinnya. Dia terlihat menawan, dan dia sadar akan hal itu. Rina tersenyum. Dia membayangkan nanti pada upacara pernikahannya, teman-teman Hans akan banyak yang hadir dan akan banyak lelaki lain yang akan dipilihnya salah satunya untuk memenuhi fantasi liarnya. Vaginanya berdenyut, dan dia membayangkan apa yang akan dilakukannya untuk membuat hari ini lebih komplit dan sempurna saat lonceng berbunyi nanti.
Saat dia membuka pintu, ayah Hans, Darma, sedang berdiri di sana, bersiap untuk menjemput dan mengantarnya ke gereja. Rina menarik nafas dalam-dalam. Dia tahu lelaki di hadapannya ini sangat merangsangnya. Beberapa bulan belakangan ini dia telah berusaha untuk menggodanya, dan dia pernah mendengar bahwa lelaki ini melakukan masturbasi di kamar mandi saat dia datang berkunjung ke rumah Hans dengan menyebut namanya. Rina belum tahu pasti apakah akan mudah nantinya untuk menggoda Darma agar akhirnya mau bersetubuh dengannya, tapi sekarang dia akan mencari tahu tentang hal tersebut. Dia tersenyum lebar saat menangkap mata Darma yang menatap tubuhnya yang dibalut gaun pengantin ketat untuk beberapa saat.
“Ayah” tegurnya, dan memberinya sebuah ciuman kecil di pipinya. Parfumnya yang menggoda menyelimuti penciuman Darma.
“Ayah datang terlalu cepat, aku belum siap. Tapi ayah dapat membantuku.”
Digenggamnya tangan Darma dan menariknya masuk ke dalam rumah kontrakannya, tempat yang akan segera ditinggalkannya nanti setelah menikah dengan Hans. Darma mengikutinya dengan dada yang berdebar kencang. Ini adalah saat yang diimpikannya. Dia heran bagaimana anaknya yang pemalu dan bisa dikatakan kurang pergaulan itu dapat menikahi seorang wanita cantik dan menggoda seperti ini, tapi dia senang karena nantinya dia akan mempunyai lebih banyak waktu lagi untuk berdekatan dengan wanita ini.
“Apa yang bisa kubantu?” tanya Darma. Rina berhenti di ruang tengahnya yang nyaman lalu duduk di sebuah meja.
“Aku belum memasang kaitan stockingku.. Dan sekarang, dengan pakaian ini.. Aku kesulitan untuk memasangnya.” jawab Rina.
Suaranya terdengar manis, tapi matanya berkilat liar menggoda. Diangkatnya tepian gaun pengantinnya, kakinya yang dibungkus dengan stocking putih dan sepatu bertumit tinggi langsung terpampang.
“Bisakah ayah membantuku memasangnya?” pinta Rina.
Darma ragu-ragu untuk beberapa waktu. Jantungnya berdetak semakin cepat. Apakah ini sebuah ‘undangan’ untuk sesuatu yang lain lagi, ataukah hanya sebuah permintaan tolong yang biasa saja? Lalu dia mengangguk.
“Oh, tentu..” jawab Darma akhirnya.
Dia berlutut di hadapan calon istri anaknya dan bergerak meraih kaitan stockingnya. Jemarinya sedikit gemetar saat Rina dengan pelan mengangkat kakinya. Darma berusaha untuk memasangkan kaitan stocking itu. Rina menggigit bibir bawahnya menggoda, dan lebih menaikkan gaunnya, menampakkan paha panjangnya yang dibalut stocking putih.
Dia dapat merasakan sebuah perasaan yang tak asing mulai bergejolak dalam dadanya., sebuah tekanan nikmat yang membuat nafasnya semakin sesak, membuat nafasnya semakin memburu, dan membuatnya semakin melebarkan kakinya. Dia dapat merasakan cairannya mulai membasahi. Kaitan itu akhirnya terpasang di sekitar lututnya. Darma menghentikan gerakannya, tak yakin apakah dia sudah memasangkannya dengan benar.
“Ayah, seharusnya lebih ke atas lagi..”
Tangan calon ayah mertuanya yang berada sedikit di bawah vaginanya membuatnya menjadi berdenyut dengan liar. Keragu-raguan itu hanya bertahan untuk beberapa saat saja. Tangan Darma menarik kaitan itu semakin ke atas saat calon istri anaknya meneruskan mengangkat gaun pengantinnya semakin naik. Dia menelan ludah membasahi tenggorokannya yang terasa kering saat akhirnya kaitan itu terpasang pada tempatnya di bagian paling atas stockingnya.
Dia yakin dapat mencium aroma dari vagina Rina sekarang, yang membuat jantungnya seakan hendak melompat keluar dari dadanya. Tangannya berhenti, kaitan stocking itu melingkari bagian atas paha Rina.. Dan dia merasakan bagian gaun pengantin itu terjatuh saat Rina melepaskan sebelah pegangannya untuk meraih bagian belakang kepalanya dan mengarahkan wajah ayah calon suaminya mendekat ke vaginanya, dan Darma menemukan bahwa tak ada celana dalam yang terpasang di sana.
Rina melenguh dan memejamkan matanya saat harapannya terkabul. Darma tak memprotes atau menolaknya, lidahnya menjilat tepat pada bibir vaginanya, dan Rina semakin basah dengan cairan gairahnya. Dengan sebelah tangan yang masih menahan gaun pengantinnya ke atas, dan yang satunya lagi menekan wajah calon mertuanya ke vaginanya yang terbakar, dia mulai menggoyangkannya perlahan.
Ini serasa di surga, dan menyadari apa yang diperbuatnya tepat di hari pernikahannya membuat tubuhnya semakin menggelinjang. Dia mengerang saat lidah Darma memasuki lubangnya, dan lidah itu mulai bergerak, menghisap bibir vaginanya, menjilati kelentitnya, wajah Darma belepotan dengan cairan kewanitaan calon istri anaknya di ruang tengah rumah kontrakannya. Semakin Rina menggelinjang, semakin keras pula Darma menghisapnya.
“Oh ya ayah.. Jilat vaginaku.. Buat aku orgasme sebelum aku mengucapkan janjiku pada putramu.. Kumohon..”
Perasaan bersalah akan apa yang mereka perbuat membuat Rina dengan cepat meraih orgasmenya, dan hampir saja dia roboh menimpa Darma. Ini bukan seperti orgasme yang biasa diraihnya, ini seperti rangkaian ombak yang menggulung tubuhnya, merenggut setiap sel kenikmatan dari dalam tubuhnya. Cairan Rina terasa nikmat pada lidah Darma, dia menjilat dan menghisap vaginanya seperti seorang lelaki yang kehausan. Penisnya terasa sakit dalam celananya, cairan precum-nya membasahi bagian depan tuxedonya.
Rina kembali menggelinjang, lalu dengan pelan bergerak mundur, membiarkan gaun pengantinnya menutupi ayah Hans. Lalu dia membuka resleting di bagian belakang gaunnya dan membiarkannya jatuh menuruni tubuhnya. Dia melangkah keluar dari tumpukan gaun pengantinnya yang tergeletak di atas lantai dengan hanya mengenakan sepatu bertumit tingginya, bra, dan tentu saja stocking beserta kaitannya yang baru saja dipasangkan Darma pada pahanya. Rina tersenyum padanya, vaginanya berkilat dengan cairannya.
“Aku akan ke kamar mandi untuk membetulkan make-up, kalau ayah memerlukan sesuatu..” dia berkata dengan mengedipkan matanya.
Darma menatapnya melenggang dan menghilang di balik pintu, begitu feminin dan menggoda. Hanya beberapa detik kemudian dia menyusulnya. Saat dia memasuki kamar mandi dan berdiri di depan sebuah cermin di atas washtafel, dia sudah mengenakan sebuah celana dalam berwarna putih. Darma tahu bahwa ini adalah salah satu godaannya yang manis, dan dia telah siap untuk bermain bersamanya.
Rina melihatnya masuk, dan dengan sebuah gerakan yang cantik membuka lebar pahanya. Darma melangkah ke belakangnya, mata mereka saling terkunci dalam masing-masing bayangannya dalam cermin. Tangan Darma bergerak ke bagian depan tubuhnya, menggenggam payudaranya yang masih ditutupi bra. Rina tersenyum.
“Tapi ayah, bukankah ini tak layak dilakukan oleh seorang ayah calon pengantin pria?”
Darma memandangi bagaimana bibir Rina yang membuka saat bicara, mendengarkan hembusan hangat nafasnya, seiring dengan tangannya yang meremasi payudaranya dalam balutan bra.
“Tak selayak apa yang akan kulakukan padamu.”
Rina menggigit bibirnya dan mendorong pantatnya menekan penisnya yang mengeras.
“Aku sudah tidak sabar,” bisiknya.
Sejenak kemudian Rina merasakan tangan calon ayah mertuanya berada di belakangnya saat dia melepaskan sabuk dan membiarkan celananya jatuh turun. Dengan mudah tangan Darma menarik celana dalamnya ke samping. Rina menarik nafas dalam-dalam saat dia merasakan daging kepala penis Darma menekan bibir vaginanya yang masih basah.. Dia mengerang dan memegangi tepian washtafel saat dengan perlahan Darma mulai mendorongkan batang penis itu memasukinya. Rina merasakan bibir vaginanya menjadi terdorong ke dalam, merasakan dinding bagian dalamnya melebar untuk menerimanya.
“Apa ini terasa lebih baik daripada penis putaku?” Darma tersenyum puas.
Dia tahu dengan pasti berapa ukuran penis putranya, dan dia yakin kalau putranya mewarisinya dari garis ibunya. Vagina calon istri putranya terasa sangat menakjubkan pada batang penisnya, dengan cepat dia sadar bahwa dia layak untuk menyetubuhi calon menantunya lebih sering dibandingkan putranya. Dan dia mendapatkan firasat bahwa dia bisa melakukannya kapan pun mereka memiliki kesempatan.
“Oh brengsek!! Ya Ayah.. Ayo.. Beri aku yang terbaik untuk merayakan pernikahanku dengan putra kecilmu.”
Dia lebih membungkuk ke bawah, dan merasakan tangan Darma pada pinggulnya. Dia mencengkeramnya dengan erat dan mulai memompanya keluar masuk. Mereka sadar akan terlambat menghadiri upacara pernikahan, tapi Darma memastikan agar vagina sang mempelai wanita benar-benar berdenyut menghisap sehabis persetubuhan keras yang lama. Rina mengerang, menjerit dan bergoyang pada batang penis itu mengimbangi gerakannya. Mereka saling memandangi bayangan mereka berdua di dalam cermin saat menyalurkan nafsu terlarang mereka.
Rina merasa teramat sangat nakal, disetubuhi dengan layak dan keras oleh ayah calon suaminya tepat sebelum upacara pernikahannya. Darma merasakan vaginanya mengencang pada batang penisnya, dan kali ini, dia merasa seluruh tubuh Rina mengejang sepanjang orgasmenya. Wanita ini adalah pemandangan terindah yang pernah disaksikannya, punggungnya melengkung ke belakang ke arahnya seperti sebuah busur panah yang direntangkan, matanya melotot indah, mulutnya ternganga dalam lenguhan bisu. Darma bahkan dapat merasakan pancaran dari orgasmenya menjalari batang penisnya saat dia tetap menyetubuhinya.
Dia telah membuatnya mendapatkan orgasme seperti ini selama tiga kali, hingga dia nyaris roboh di atas washtafel, menerima hentakannya, vaginanya hampir terasa kelelahan untuk orgasme lagi. Tapi Darma tahu bagaimana membawanya ke sana.
“Kamu mengharapkan spermaku, iya kan, Rina? Kamu ingin agar aku mengisimu dan membuat vaginamu terlumuri spermaku yang sudah mengering saat berjalan di altar pernikahanmu, benar kan wanita jalangku?”
“Oh ya.. Yaa!”
Sang pengantin wanita mulai kesulitan bernafas, dan Darma dapat merasakan vaginanya menyempit. Darma melesakkan batang penisnya sedalam yang dia mampu, dengan setiap dorongan yang keras, dan segera saja dia merasakan sensasi terbakar itu, dan dia tahu bahwa dia tak mampu menahannya lebih lama lagi. Tepat saat penisnya melesak jauh ke dalam vagina calon istri putranya, menyemburkan cairan sperma yang banyak ke dalam kandungannya, dia merasakan tubuh Rina menegang dan orgasme sekali lagi.
Dicabutnya batang penisnya keluar, menyaksikan lelehan sperma yang mengalir turun di pahanya menuju ke kaitan stocking pernikahan Rina. Darma tersenyum.
“Aku akan menunggu di mobil, Rina..”
Perlahan Rina bangkit, masih menggelepar karena sensasi itu, wajahnya memerah, lututnya lemah, vaginanya berdenyut dan bocor.
“Mm, baiklah Ayah.”
Dia memutuskan untuk melakukan ‘tradisinya’ dengan mengorek sperma ayah Hans dari pahanya dengan jari tangan kirinya yang dilingkari oleh cincin berlian pemberian Hans.
Saat Darma melihat mempelai wanita putranya masuk ke dalam mobil, sudah rapi dan bersih, terlihat segar serta berbinar wajahnya dan siap untuk upacara pernikahan, sedangkan bayangannya yang terpantul dari kaca mobil adalah saat Rina memandang tepat di matanya dan menjilat spermanya dari cincin berlian pemberian putranya..
READ MORE - Cerita Sex Pengantin Baru

Senin, 15 Juni 2009

Cerita Gadis Diperkosa 3 Orang

Sebenarnya aku tidak istimewa, wajahku juga tidak terlalu tampan, tinggi dan
bentuk tubuhku juga biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa dalam diriku. Tapi
entah kenapa aku banyak disukai wanita. Bahkan ada yang terang-terangan
mengajakku berkencan. Tapi aku tidak pernah berpikir sampai ke sana. Aku belum
mau pacaran. Waktu itu aku masih duduk di bangku kelas dua SMA. Padahal hampir
semua teman-temanku yang laki, sudah punya pacar. Bahkan sudah ada yang beberapa
kali ganti pacar. Tapi aku sama sekali belum punya keinginan untuk pacaran.
Walau sebenarnya banyak juga gadis-gadis yang mau jadi pacarku.
Waktu itu hari Minggu pagi. Iseng-iseng aku berjalan-jalan memakai pakaian olah
raga. Padahal aku paling malas berolah raga. Tapi entah kenapa, hari itu aku
pakai baju olah raga, bahkan pakai sepatu juga. Dari rumahku aku sengaja
berjalan kaki. Sesekali berlari kecil mengikuti orang-orang yang ternyata cukup
banyak juga yang memanfaatkan minggu pagi untuk berolah raga atau hanya sekedar
berjalan-jalan menghirup udara yang masih bersih.
Tidak terasa sudah cukup jauh juga meninggalkan rumah. Dan kakiku sudah mulai
terasa pegal. Aku duduk beristirahat di bangku taman, memandangi orang-orang
yang masih juga berolah raga dengan segala macam tingkahnya. Tidak sedikit
anak-anak yang bermain dengan gembira.
Belum lama aku duduk beristirahat, datang seorang gadis yang langsung saja duduk
di sebelahku. Hanya sedikit saja aku melirik, cukup cantik juga wajahnya. Dia
mengenakan baju kaos yang ketat tanpa lengan, dengan potongan leher yang lebar
dan rendah, sehingga memperlihatkan seluruh bahu serta sebagian punggung dan
dadanya yang menonjol dalam ukuran cukup besar. Kulitnya putih dan bersih celana
pendek yang dikenakan membuat pahanya yang putih dan padat jadi terbuka. Cukup
leluasa untuk memandangnya. Aku langsung berpura-pura memandang jauh ke depan,
ketika dia tiba-tiba saja berpaling dan menatapku.
“Lagi ada yang ditunggu?”, tegurnya tiba-tiba.
Aku terkejut, tidak menyangka kalau gadis ini menegurku. Cepat-cepat aku
menjawab dengan agak gelagapan juga. Karena tidak menduga kalau dia akan
menyapaku.
“Tidak.., Eh, kamu sendiri..?”, aku balik bertanya.
“Sama, aku juga sendirian”, jawabnya singkat.
Aku berpaling dan menatap wajahnya yang segar dan agak kemerahan. Gadis ini
bukan hanya memiliki wajah yang cukup cantik tapi juga punya bentuk tubuh yang
bisa membuat mata lelaki tidak berkedip memandangnya. Apalagi pinggulnya yang
bulat dan padat berisi. Bentuk kakinya juga indah. Entah kenapa aku jadi
tertarik memperhatikannya. Padahal biasanya aku tidak pernah memperhatikan
wanita sampai sejauh itu.
“Jalan-jalan yuk..”, ajaknya tiba-tiba sambil bangkit berdiri.
“Kemana?”, tanyaku ikut berdiri.
“Kemana saja, dari pada bengong di sini”, sahutnya.
Tanpa menunggu jawaban lagi, dia langsung mengayunkan kakinya dengan gerakan
yang indah dan gemulai. Bergegas aku mengikuti dan mensejajarkan ayunan langkah
kaki di samping sebelah kirinya. Beberapa saat tidak ada yang bicara. Namun
tiba-tiba saja aku jadi tersentak kaget, karena tanpa diduga sama sekali, gadis
itu menggandeng tanganku. Bahkan sikapnya begitu mesra sekali. Padahal baru
beberapa detik bertemu. Dan akujuga belum kenal namanya.
Dadaku seketika jadi berdebar menggemuruh tidak menentu. Kulihat tangannya
begitu halus dan lembut sekali. Dia bukan hanya menggandeng tanganku, tapi malah
mengge1ayutinya. Bahkan sesekali merebahkan kepalanya dibahuku yang cukup tegap.
“Eh, nama kamu siapa..?”, tanyanya, memulai pembicaraan lebih dulu.
“Angga”, sahutku.
“Akh.., kayak nama perempuan”, celetuknya. Aku hanya tersenyum saja sedikit.
“Kalau aku sih biasa dipanggil Ria”, katanya langsung memperkenalkan diri
sendiri. Padahal aku tidak memintanya.
“Nama kamu bagus”, aku memuji hanya sekedar berbasa-basi saja.
“Eh, boleh nggak aku panggil kamu Mas Angga?, Soalnya kamu pasti lebih tua
dariku”,• katanya meminta.
Aku hanya tersenyum saja. Memang kalau tidak pakai seragam Sekolah, aku
kelihatan jauh lebih dewasa. Padahal umurku saja baru tujuh belas lewat beberapa
bulan. Dan aku memperkirakan kalau gadis ini pasti seorang mahasiswi, atau
karyawati yang sedang mengisi hari libur dengan berolah raga pagi. Atau hanya
sekedar berjalan-jalan sambil mencari kenalan baru.
“Eh, bubur ayam disana nikmat lho. Mau nggak..?”, ujarnya menawarkan, sambil
menunjuk gerobak tukang bubur ayam.
“Boleh”, sahutku.
Kami langsung menikmati bubur ayam yang memang rasanya nikmat sekali. Apa lagi
perutku memang lagi lapar. Sambil makan, Ria banyak bercerita. Sikapnya begitu
riang sekali, membuatku jadi senang dan seperti sudah lama mengenalnya. Ria
memang pandai membuat suasana jadi akrab.
Selesai makan bubur ayam, aku dan gadis itu kembali berjalan-jalan. Sementara
matahari sudah naik cukup tinggi. Sudah tidak enak lagi berjalan di bawah
siraman teriknya mentari. Aku bermaksud mau pulang. Tanpa diduga sama sekali,
justru Ria yang mengajak pulang lebih dulu.
“Mobilku di parkir disana..”, katanya sambil menunjuk deretan mobil-mobil yang
cukup banyak terparkir.
“Kamu bawa mobil..?”, tanyaku heran.
“Iya. Soalnya rumahku kan cukup jauh. Malas kalau naik kendaraan umum”, katanya
beralasan.
“Kamu sendiri..?”
Aku tidak menjawab dan hanya mengangkat bahu saja.
“Ikut aku yuk..”, ajaknya langsung.
Belum juga aku menjawab, Ria sudah menarik tanganku dan menggandeng aku menuju
ke mobilnya. Sebuah mobil starlet warna biru muda masih mulus, dan tampaknya
masih cukup baru. Ria malah meminta aku yang mengemudi. Untungnya aku sering
pinjam mobil Papa, jadi tidak canggung lagi membawa mobil. Ria langsung
menyebutkan alamat rumahnya. Dan tanpa banyak tanya lagi, aku langsung
mengantarkan gadis itu sampai ke rumahnya yang berada di lingkungan komplek
perumahan elite. sebenarnya aku mau langsung pulang. Tapi Ria menahan dan
memaksaku untuk singgah.
“Ayo..”, Sambil menarik tanganku, Ria memaksa dan membawaku masuk ke dalam
rumahnya. Bahkan dia langsung menarikku ke lantai atas. Aku jadi heran juga
dengan sikapnya yang begitu berani membawa laki-laki yang baru dikenalnya ke
dalam kamar.
“Tunggu sebentar ya..”, kata Ria setelah membawaku ke dalam sebuah kamar.
Dan aku yakin kalau ini pasti kamar Ria. Sementara gadis itu meninggalkanku
seorang diri, entah ke mana perginya. Tapi tidak lama dia sudah datang lagi. Dia
tidak sendiri, tapi bersama dua orang gadis lain yang sebaya dengannya. Dan
gadis-gadis itu juga memiliki wajah cantik serta tubuh yang ramping, padat dan
berisi.
Aku jadi tertegun, karena mereka langsung saja menyeretku ke pembaringan. Bahkan
salah seorang langsung mengikat tanganku hingga terbaring menelentang di
ranjang. Kedua kakiku juga direntangkan dan diikat dengan tali kulit yang kuat.
Aku benar-benar terkejut, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Karena kejadiannya
begitu cepat dan tiba-tiba sekali, hingga aku tidak sempat lagi menyadari.
“Aku dulu.., Aku kan yang menemukan dan membawanya ke sini”, kata Ria tiba-tiba
sambil melepaskan baju kaosnya.
Kedua bola mataku jadi terbeliak lebar. Ria bukan hanya menanggalkan bajunya,
tapi dia melucuti seluruh penutup tubuhnya. Sekujur tubuhku jadi menggigil,
dadaku berdebar, dan kedua bola mataku jadi membelalak lebar saat Ria mulai
melepaskan pakaian yang dikenakannya satu persatu sampai polos sama sekali..
Akhh tubuhnya luar biasa bagusnya.. baru kali ini aku melihat payudara seorang
gadis secara dekat, payudaranya besar dan padat. Bentuk pinggulnya ramping dan
membentuk bagai gitar yang siap dipetik, Bulu-bulu vaginanya tumbuh lebat di
sekitar kemaluannya. Sesaat kemudian Ria menghampiriku, dan merenggut semua
pakaian yang menutupi tubuhku, hingga aku henar-benar polos dalam keadaan tidak
berdaya. Bukan hanya Ria yang mendekatiku, tapi kedua gadis lainnya juga ikut
mendekati sambil menanggalkan penutup tubuhnya.
“Eh, apa-apaan ini? Apa mau kalian..?”, aku membentak kaget.
Tapi tidak ada yang menjawab. Ria sudah menciumi wajah serta leherku dengan
hembusan napasnya yang keras dan memburu. Aku menggelinjang dan berusaha
meronta. Tapi dengan kedua tangan terikat dan kakiku juga terentang diikat,
tidak mudah bagiku untuk melepaskan diri. Sementara itu bukan hanya Ria saja
yang menciumi wajah dan sekujur tubuhku, tapi kedua gadis lainnya juga melakukan
hal yang sama.
Sekujur tubuhku jadi menggeletar hebat Seperti tersengat listrik, ketika
merasakan jari-jari tangan Ria yang lentik dan halus menyambar dan langsung
meremas-remas bagian batang penisku. Seketika itu juga batang penisku tiba-tiba
menggeliat-geliat dan mengeras secara sempurna, aku tidak mampu melawan rasa
kenikmatan yang kurasakan akibat penisku di kocok-kocok dengan bergairah oleh
Ria. Aku hanya bisa merasakan seluruh batangan penisku berdenyut-denyut nikmat.
Aku benar-benar kewalahan dikeroyok tiga orang gadis yang sudah seperti
kerasukan setan. Gairahku memang terangsang seketika itu juga. Tapi aku juga
ketakutan setengah mati. Berbagai macam perasaan berkecamuk menjadi satu. Aku
ingin meronta dan mencoba melepaskan diri, tapi aku juga merasakan suatu
kenikmatan yang biasanya hanya ada di dalam hayalan dan mimpi-mimpiku.
Aku benar-benar tidak berdaya ketika Ria duduk di atas perutku, dan menjepit
pinggangku dengan sepasang pahanya yang padat. Sementara dua orang gadis lainnya
yang kutahu bernama Rika dan Sari terus menerus menciumi wajah, leher dan
sekujur tubuhku. Bahkan mereka melakukan sesuatu yang hampir saja membuatku
tidak percaya, kalau tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri.
Saat itu juga aku langsung menyadari kalau gadis-gadis ini bukan hanya menderita
penyakit hiperseks, tapi juga biseks. Mereka bisa melakukan dan mencapai
kepuasan dengan lawan jenisnya, dan juga dengan sejenisnya. Bahkan mereka juga
menggunakan alat-alat untuk mencapai kepuasan seksual. Aku jadi ngeri dan takut
membayangkannya.
Sementara itu Ria semakin asyik menggerak-gerakkan tubuhnya di atas tubuhku.
Meskipun ada rasa takut dalam diriku, tetapi aku benar-benar merasakan
kenikmatan yang amat sangat, baru kali ini penisku merasakan kelembutan dan
hangatnya lubang vagina seorang gadis, lembut, rapat dan sedikit basah, Riapun
merasakan kenikmatan yang sama, bahkan sesekali aku mendengar dia merintih
tertahan. Ria terus menggenjot tubuhnya dengan gerakan-gerakan yang luar biasa
cepatnya membuatku benar-benar tidak kuasa lagi menerima kenikmatan bertubi-tubi
aku berteriak tertahan. Ria yang mendengarkan teriakanku ini tiba-tiba mencabut
vaginanya dan secara cepat tangannya meraih dan menggenggam batang penisku dan
melakukan gerakan-gerakan mengocok yang cepat, hingga tidak lebih dari beberapa
detik kemudian aku merasakan puncak kenikmatan yang luar biasa berbarengan
dengan spermaku yang menyemprot dengan derasnya. Ria terus mengocok-ngocok
penisku sampai spermaku habis dan tidak bisa menyemprot lagi tubuhku merasa
ngilu dan mengejang.
Tetapi Ria rupanya tidak berhenti sampai disitu, kemudian dengan cepat dia
dibantu dengan kedua temannya menyedot seluruh spermaku yang bertebaran sampai
bersih dan memulai kembali menggenggam batang penisku erat-erat dengan genggaman
tangannya sambil mulutnya juga tidak lepas mengulum kepala penisku. Perlakuannya
ini membuat penisku yang biasanya setelah orgasme menjadi lemas kini menjadi
dipaksa untuk tetap keras dan upaya Ria sekarang benar-benar berhasil. Penisku
tetap dalam keadaan keras bahkan semakin sempurna dan Ria kembali memasukkan
batangan penisku ke dalam vaginanya kembali dan dengan cepatnya Ria menggenjot
kembali vaginanya yang sudah berisikan batangan penisku.
Aku merasakan agak lain pada permainan yang kedua ini. Penisku terasa lebih
kokoh, stabil dan lebih mampu meredam kenikmatan yang kudapat. Tidak lebih dari
sepuluh menit Ria memperkosaku, tiba-tiba dia menjerit dengan tertahan dan Ria
tiba-tiba menghentikan genjotannya, matanya terpejam menahan sesuatu, aku bisa
merasakan vagina Ria berdenyut-denyut dan menyedot-nyedot penisku, hingga
akhirnya Ria melepaskan teriakannya saat ia merasakan puncak kenikmatannya. Aku
merasakan vagina Ria tiba-tiba lebih merapat dan memanas, dan aku merasakan
kepala penisku seperti tersiram cairan hangat yang keluar dari vagina Ria. Saat
Ria mencabut vaginanya kulihat cairan hangat mengalir dengan lumayan banyak di
batangan penisku..
Setelah Ria Baru saja mendapatkan orgasme, Ria menggelimpang di sebelah tubuhku.
Setelah mencapai kepuasan yang diinginkannya, melihat itu Sari langsung
menggantikan posisinya. Gadis ini tidak kalah liarnya. Bahkan jauh lebih buas
lagi daripada Ria. Membuat batanganku menjadi sedikit sakit dan nyeri. Hanya
dalam tidak sampai satu jam, aku digilir tiga orang gadis liar. Mereka
bergelinjang kenikmatan dengan dalam keadaan tubuh polos di sekitarku, setelah
masing-masing mencapai kepuasan yang diinginkannya.
Sementara aku hanya bisa merenung tanpa dapat berbuat apa-apa. Bagaimana mungkm
aku bisa melakukan sesuatu dengan kedua tangan dan kaki terikat seperti ini..?
Aku hanya bisa berharap mereka cepat-cepat melepaskan aku sehingga aku bisa
pulang dan melupakan semuanya. Tapi harapanku hanya tinggal angan-angan belaka.
Mereka tidak melepaskanku, hanya menutupi tubuhku dengan selimut. Aku malah
ditinggal seorang diri di dalam kamar ini, masih dalam keadaan telentang dengan
tangan dan kaki terikat tali kulit. Aku sudah berusaha untuk melepaskan diri.
Tapi justru membuat pergelangan tangan dan kakiku jadi sakit. Aku hanya bisa
mengeluh dan berharap gadis-gadis itu akan melepaskanku.
Sungguh aku tidak menyangka sama sekali. Ternyata ketiga gadis itli tidak mau
melepaskanku. Bahkan mereka mengurung dan menyekapku di dalam kamar ini. Setiap
saat mereka datang dan memuaskan nafsu birahinya dengan cara memaksa. Bahkan
mereka menggunakan obat-obatan untuk merangsang gairahku. Sehingga aku sering
kali tidak menyadari apa yang telah kulakukan pada ketiga gadis itu. Dalam
pengaruh obat perangsang, mereka melepaskan tangan dan kakiku. Tapi setelah
mereka mencapai kepuasan, kembali mengikatku di ranjang ini. Sehingga aku tidak
bisa meninggalkan ranjang dan kamar ini.
Dan secara bergantian mereka mengurus makanku. Mereka memandikanku juga di
ranjang ini dengan menggunakan handuk basah, sehingga tubuhku tetap bersih.
Meskipun mereka merawat dan memperhatikanku dengan baik, tapi dalam keadaan
terbelenggu seperti ini siapa yang suka? Berulang kali aku meminta untuk
dilepaskan. Tapi mereka tidak pernah menggubris permintaanku itu. Bahkan mereka
mengancam akan membunuhku kalau berani berbuat macam-macam. Aku membayangkan
kalau orang tua dan saudara-saudara serta semua temanku pasti kebingungan
mencariku.
Karena sudah tiga hari aku tidak pulang akibat disekap gadis-gadis binal dan
liar ini. Meskipun mereka selalu memberiku makanan yang lezat dan bergizi, tapi
hanya dalam waktu tiga hari saja tubuhku sudah mulai kelihatan kurus. Dan aku
sama sekali tidak punya tenaga lagi. Bahkan aku sudah pasrah. Setiap saat mereka
selalu memaksaku menelan obat perangsang agar aku tetap bergairah dan bisa
melayani nafsu birahinya. Aku benar-benar tersiksa. Bukan hanya fisik, tapi juga
batinku benar-benar tersiksa. Dan aku sama sekali tidak berdaya untuk melepaskan
diri dari cengkeraman gadis-gadis binal itu.
Tapi sungguh aneh. Setelah lima hari terkurung dan tersiksa di dalam kamar ini,
aku tidak lagi melihat mereka datang. Bahkan sehari semalam mereka tidak
kelihatan. Aku benar-benar ditinggal sendirian di dalam kamar ini dalam keadaan
terikat dan tidak berdaya. Sementara perutku ini terus menerus menagih karena
belum diisi makanan. Aku benar-benar tersiksa lahir dan batin.
Namun keesokan harinya, pintu kamar terbuka. Aku terkejut, karena yang datang
bukan Ria, Santi atau Rika Tapi seorang lelaki tua, bertubuh kurus. Dia langsung
menghampiriku dan membuka ikatan di tangan dan kaki. Saat itu aku sudah
benar-benar lemah, sehingga tidak mampu lagi untuk bergerak. Dan orang tua ini
memintaku untuk tetap berbaring. Bahkan dia memberikan satu stel pakaian, dan
membantuku mengenakannya.
“Tunggu sebentar, Bapak mau ambilkan makanan”, katanya sambil berlalu
meninggalkan kamar ini.
Dan memang tidak lama kemudian dia sudah kembali lagi dengan membawa sepiring
nasi dengan lauk pauknya yang mengundang selera. Selama dua hari tidak makan,
membuat nafsu makanku jadi tinggi sekali. Sebentar saja sepiring nasi itu sudah
habis berpindah ke dalam perut. Bahkan satu teko air juga kuhabiskan. Tubuhku
mulai terasa segar. Dan tenagaku berangsur pulih.
“Bapak ini siapa?”, tanyaku
“Saya pengurus rumah ini”, sahutnya.
“Lalu, ketiga gadis itu..”, tanyaku lagi.
“hh.., Mereka memang anak-anak nakal. Maafkan mereka, Nak..”, katanya dengan
nada sedih.
“Bapak kenal dengan mereka?”, tanyaku.
“Bukannya kenal lagi. Saya yang mengurus mereka sejak kecil. Tapi saya tidak
menyangka sama sekali kalau mereka akan jadi binal seperti itu. Tapi untunglah,
orang tua mereka telah membawanya pergi dari sini. Mudah-mudahan saja kejadian
seperti ini tidak terulang lagi”, katanya menuturkan dengan mimik wajah yang
sedih.
Aku juga tidak bisa bilang apa-apa lagi. Setelah merasa tenagaku kembali pulih,
aku minta diri untuk pulang. Dan orang tua itu mengantarku sampai di depan
pintu. Kebetulan sekali ada taksi yang lewat. Aku langsung mencegat dan meminta
supir taksi mengantarku pulang ke rumahku. Di dalam perjalanan pulang, aku
mencoba merenungi semua yang baru saja terjadi.
Aku benar-benar tidak mengerti, dan hampir tidak percaya. Seakan-akan semua yang
terjadi hanya mimpi belaka. Memang aku selalu menganggap semua itu hanya mimpi
buruk. Dan aku tidak berharap bisa terulang lagi. Bahkan aku berharap kejadian
itu tidak sampai menimpa orang lain. Aku selalu berdoa semoga ketiga gadis itu
menyadari kesalahannya dan mau bertobat. Karena yang mereka lakukan itu
merupakan suatu kesalahan besar dan perbuatan hina yang seharusnya tidak perlu
terjadi.
READ MORE - Cerita Gadis Diperkosa 3 Orang

Minggu, 14 Juni 2009

Cerita Cewek Diperkosa Polisi

Saya pertama kenal Vira ketika melihatnya menjadi model cover di sebuah majalah

di Jakarta, kemudian ia juga menjadi bintang sinetron Abad 21. Vira berumur 17

tahun, cantik, kulitnya putih mulus, ramah dan yang paling menarik perhatian

orang-orang adalah buah dadanya yang bundar dan padat berisi. Semua orang yang

menatap Vira pandangannya akan langsung tertarik ke arah buah dadanya yang

membusung. Tidak terlalu besar memang, tapi sangat proporsional dengan tubuh dan

wajah Vira. Saya berkenalan dengannya, pertama melalui surat kemudian bertemu,

sesekali menelepon dirinya. Lama-kelamaan kita semakin sering bertemu dan

percakapan yang ada semakin menjurus ke hal-hal yang pribadi. Akhirnya saya

memberanikan diri untuk mengajaknya keluar makan malam.

Suatu hari saya memberanikan diri untuk mengajaknya dan ternyata Vira senang

sekali mendengar ajakan saya, dan langsung setuju. Saya gelisah sekali menunggu

pada saat menjemput Vira di rumahnya.

Setelah pulang kerja dan berganti pakaian saya menjemput Vira, untuk kemudian

makan malam di sebuah restoran. Di sana kami bercakap-cakap panjang lebar,

setelah itu dilanjutkan sebuah diskotik untuk sedikit menggoyangkan tubuh dan

minum. Di tengah-tengah percakapan di diskotik, Vira mengajak saya untuk kembali

ke rumahnya dan melanjutkan sisa malam itu di rumahnya. Bagaimana saya bisa

menolak tawaran itu?

Sepanjang perjalanan pulang Vira berkata bahwa ia belum pernah mengalami hari

yang menyenangkan seperti yang baru ia alami malam itu, dan ia juga berkata, di

rumah nanti giliran dirinya yang akan membuat diri saya tidak akan melupakan

malam ini.

Saya begitu bergairah dan berhasrat untuk lekas-lekas sampai ke rumah Vira,

ketika tanpa sadar saya mengendarai mobil melebihi batas maksimal kecepatan di

jalan. Tiba-tiba saya tersadar ketika di sebelah kanan sudah ada mobil Polantas

yang berusaha menghentikan mobil saya. Saya meminggirkan mobil di tempat parkir

sebuah toko dan menunggu Polantas tadi mendekati mobil kami. Ia bertanya hendak

ke mana kami sampai-sampai kami membawa mobil itu melebihi batas kecepatan.

Rupanya alasan saya tidak masuk akal sehingga Polantas tadi meminta STNK dan SIM

saya.

Setelah melihat surat-surat itu Polantas itu menjengukkan kepalanya ke dalam

mobil kami dan lama sekali mengamati Vira yang duduk terdiam. “Anda harus

meninggalkan mobil Anda di sini dan ikut saya ke kantor”, perintah Polantas

tadi. Akhirnya sepuluh menit kemudian kami sampai ke sebuah kantor polisi yang

terpencil di pinggir kota.

Waktu itu sudah lewat pukul 11 malam, dan dalam kantor polisi itu tidak terdapat

siapa pun kecuali seorang Sersan yang bertugas jaga dan Polantas yang membawa

kami. Ketika kami masuk, Sersan itu memandangi tubuh Vira dari bawah hingga ke

atas, kelihatan sekali ia menyukai Vira. Kami dimasukkan ke dalam sel terpisah,

saling berseberangan.

Sepuluh menit kemudian, Polantas yang berumur sekitar 40-an dan berbadan gemuk

dan Sersan yang tinggi besar berbadan hitam, dan umurnya kira-kira 45 tahun

kembali ke ruang tahanan. Polantas tadi berkata, “Kalian seharusnya jangan

mengemudi sampai melebihi batas kecepatan yang ada. Tapi kita semua bener-benar

kagum, soalnya dari semua yang kami tangkap baru kali ini kita dapat orang yang

cantik seperti kamu.” Sersan tadi menimpali, “Betul sekali, dia bener-bener

kualitas nomer satu!” Saya sangat takut mendengar nada bicara mereka, begitu

juga Vira yang terus-menerus ditatap oleh mereka berdua.

Mereka lalu membuka sel Vira dan masuk ke dalam. “Sekarang denger gadis manis,

kalau kamu berkelakuan baik, kita akan lepasin kamu dan pacar kamu itu.

Mengerti!” Sersan tadi langsung memegangi kedua tangan Vira sementara Polantas

menarik kaos yang dikenakan Vira ke atas. Dalam sekejap seluruh pakaian Vira

berhasil dilucuti tanpa perlawanan berarti dari Vira yang terus dipegangi oleh

Sersan. “Wow, lihat dadanya.” Vira terus meronta-ronta tanpa hasil, sementara

Sersan yang tampaknya sudah bosan dengan perlawanan Vira, melemparkan tubuh Vira

hingga jatuh telentang ke atas ranjang besi yang ada di sel Vira. Dan dengan

cepat diambilnya borgol dan diborgolnya tangan Vira ke rangka di atas kepala

Vira.

Kemudian mereka dengan leluasa menggerayangi tubuh Vira. Mereka meremas-remas

dan menarik buah dada Vira, kemudian memilin-milin puting susunya sehingga

sekarang buah dada Vira mengeras dan puting susunya mengacung ke atas. Kadang

mereka mengigit puting susu Vira, sedangkan Vira hanya bisa meronta dan menjerit

tak berdaya.

Saya berdiri di dalam sel di seberang Vira tak berdaya untuk menolong Vira yang

sedang dikerubuti oleh dua orang itu. Kedua polisi itu lalu melepaskan pakaian

mereka dan terlihat jelas kedua batang kemaluan mereka sudah keras dan tegang

dan siap untuk memperkosa Vira. Polantas mempunyai batang kemaluan paling tidak

sekitar 25 senti, dan Sersan mempunyai batang kemaluan yang lebih besar dan

panjang. Vira menjerit-jerit minta agar mereka berhenti, tapi kedua polisi itu

tetap mendekatinya.

“Lebih baik kamu tutup mulut kamu atau kita berdua bisa bikin ini lebih

menyakitkan daripada yang kamu kira.” kata Polantas.

“Sekarang mendingan kamu siap-siap buat muasin kita dengan badan kamu yang bagus

itu!”

“Dia pasti sempit sekali”, kata Sersan sambil memasukan jari-jarinya ke lubang

kemaluan Vira.

Ia menggerakkan jarinya keluar masuk, membuat Vira menggelinjang kesakitan dan

berusaha melepaskan diri.

“Betul kan, masih sempit sekali.”

Kemudian Polantas tadi naik ke atas ranjang di antara kedua kaki Vira. Kemudian

mereka membuka kaki Vira lebar-lebar dan Polantas memasukkan batang kemaluannya

ke dalam lubang senggama Vira. Vira mengeluarkan jeritan yang keras sekali,

ketika perlahan batang kemaluan Polantas membuka bibir kemaluan, dan masuk senti

demi senti tanpa berhenti. Kadang ia menarik sedikit batang kemaluannya untuk

kemudian didorongnya lebih dalam lagi ke lubang kemaluan Vira.

Sementara itu, Sersan naik dan mendekati wajah Vira, mengelus-elus wajah Vira

dengan batang kemaluannya. Mulai dari dahi, pipi kemudian turun ke bibir. Vira

menggeleng-gelengkan kepalanya agar tidak bersentuhan dengan batang kemaluan

Sersan yang hitam.

“Ayo dong manis, buka mulut kamu”, kata Sersan sambil meletakkan batang

kemaluannya di bibir Vira.

“Kamu belum pernah ngerasain punya polisi kan?” Vira tak bergeming.

“Buka!” bentak Sersan.

“Buka mulut kamu, brengsek!” Perlahan mulut Vira terbuka sedikit, dan Sersan

langsung memasukkan batang kemaluannya ke dalam mulut Vira.

Mulut Vira terbuka hingga sekitar 6 senti agar semua batang kemaluan Sersan bisa

masuk ke dalam mulutnya. Batang kemaluan Sersan mulai bergerak keluar masuk di

mulut Vira, saya melihat tidak semua batang kemaluan Sersan dapat masuk ke mulut

Vira, batang kemaluan Sersan terlalu panjang dan besar untuk bisa masuk

seluruhnya dalam mulut Vira. Ketika Sersan menarik batang kemaluannya terlihat

ada cairan yang keluar dari batang kemaluannya. Julurin lidah kamu!” Vira

membuka mulutnya dan mengeluarkan lidahnya. Sersan kemudian memegang batang

kemaluannya dan mengusapkan kepala batang kemaluannya ke lidah Vira, membuat

cairan kental yang keluar tadi menempel ke lidah Vira.

“San, dia nggak mungkin bisa masukin punya Sersan ke mulutnya, biar saya coba.

Gantian!” Mereka kemudian bertukar tempat, Sersan sekarang ada di antara kaki

Vira dan Polantas berjongkok di dekat wajah Vira. Sersan mulai mendorong batang

kemaluannya masuk ke liang senggama Vira. Terlihat sekali dengan susah payah

batang kemaluan Sersan yang besar itu membuka bibir kemaluan Vira yang masih

sempit. Polantas, mengacungkan batang kemaluannya ke mulut Vira. “Kamu mungkin

nggak bisa masukin punya Sersan ke mulut kamu, tapi kamu musti ngerasain punya

saya ini, seluruhnya.” Dengan kasar ia mendorong batang kemaluannya masuk ke

mulut Vira, sampai akhirnya batang kemaluan itu masuk seluruhnya hingga sekarang

testis Polantas berada di wajah Vira. Ia kemudian menarik batang kemaluannya

sebentar untuk kemudian didorongnya kembali masuk ke tenggorokan Vira. Setelah

lima kali, keluar masuk, Polantas sudah tidak bisa lagi menahan orgasmenya.

“Saya keluuarrhh. Aaahh!” Ia tidak menarik batang kemaluannya keluar dari mulut

Vira, batang kemaluannya tampak bergetar berejakulasi di tenggorokan Vira,

menyemprotkan sperma masuk ke tenggorokannya. Saya mendengar Vira berusaha

menjerit, ketika sperma Sersan mengalir masuk ke perutnya. Terlihat sekali

Sersan yang sedang mencapai puncak kenikmatan tidak menyadari Vira meronta-ronta

berusaha mencari udara.

“Iyya.. yaah! Telleen semuaa! Aaahh.. aahh.. nikhmaatt!”

Ketika selesai ia menarik keluar batang kemaluannya dan Vira langsung

megap-megap menghirup udara, dan terbatuk-batuk mengeluarkan sperma yang lengket

dan berwarna putih. Vira berusaha meludahkan sperma yang masih ada di mulutnya.

Polantas tertawa melihat Vira terbatuk-batuk, “Kenapa? Nggak suka rasanya?

Tenang aja, besok pagi, kamu pasti sudah terbiasa sama itu!”

Sementara Sersan yang masih mengerjai kemaluan Vira sekarang malah memegang

pinggul Vira dan membalik tubuh Vira. Vira dengan tubuh berkeringat dan sperma

yang menempel di wajahnya tersadar apa yang akan dilakukan Sersan pada dirinya,

ketika dirasanya batang kemaluan Sersan mulai menempel di lubang anusnya.

“Jangan Pak, jangan! Ampun Pak, ampun, jangan..”

“Aaahkk! Jangaan!”

Vira menjerit-jerit ketika kepala batang kemaluan Sersan berhasil memaksa masuk

ke liang anusnya. Wajah Vira pucat merasakan sakit yang amat sangat ketika

batang kemaluan Sersan mendorong masuk ke liang anusnya yang kecil. Sersan

mendengus-dengus berusaha memasukkan batang kemaluannya ke dalam anus Vira.

Perlahan, senti demi senti batang kemaluan itu tenggelam masuk ke anus Vira.

Vira terus menjerit-jerit minta ampun ketika perlahan batang kemaluan Sersan

masuk seluruhnya ke anusnya. Akhirnya ketika seluruh batang kemaluan Sersan

masuk, Vira hanya bisa merintih dan mengerang kesakitan merasakan benda besar

yang sekarang masuk ke dalam anusnya.

Sersan beristirahat sejenak, sebelum mulai bergerak keluar masuk. Kembali Vira

menjerit-jerit. Sersan terus bergerak tanpa belas kasihan. Batang kemaluannya

bergerak keluar masuk dengan cepat, membuat testisnya menampar-nampar pantat

Vira. Sersan tidak peduli mendengar Vira berteriak kesakitan dan menjerit minta

ampun ketika sodomi itu berlangsung. Saya melihat berulang kali batang kemaluan

Sersan keluar masuk anus Vira tanpa henti. Akhirnya Sersan mencapai orgasme ia

menarik batang kemaluannya dan sperma menyemprot keluar menyembur ke punggung

Vira, kemudian menyembur ke pantat Vira dan mengalir turun ke pahanya, dan

terakhir Sersan kembali memasukkan batang kemaluannya ke anus Vira lagi dan

menyemprotkan sisa-sisa spermanya ke dalam anus Vira. Sersan kemudian melepaskan

pegangannya dari pinggul Vira dan berdua dengan Polantas mereka keluar dari sel

dan menguncinya. Saya masih dapat mendengar Sersan berkata pada Polantas,

“Pantat paling hebat yang pernah ada. Dia bener-bener sempit!”

Dini hari, ketika Vira kelelahan menangis dan merintih, mereka berdua dengan

langkah sempoyongan dan dengan botol bir di tangan masuk kembali ke dalam sel

Vira. Mereka menendang tubuh Vira agar terbangun dan mereka mulai memperkosanya

lagi. Sekarang Polantas menyodomi Vira sementara Sersan berbaring di bawah Vira

dan memasukkan batang kemaluannya ke dalam kemaluan Vira. Kemudian mereka

berganti posisi. Mereka juga menyiksa Vira dengan memasukkan botol bir ke dalam

liang kemaluan dan anusnya sementara batang kemaluan mereka dimasukkan ke mulut

Vira. Mereka terus berganti posisi dan Vira terus menerus menjerit dan menjerit

hingga akhirnya ia kelelahan dan tak sadarkan diri. Melihat itu polisi-polisi

tersebut hanya tertawa terbahak-bahak meninggalkan tubuh Vira yang memar-memar

dan belepotan sperma dan bir.

Keesokan paginya, Sersan masuk dan membuka sel kami.

“Kalian boleh pergi.”

Saya membantu Vira mengenakan pakaiannya. Tubuhnya lemah lunglai berbau bir dan

sperma-sperma kering masih menempel di tubuhnya. Kami pergi dari kantor polisi

itu dan akhirnya sampai ke rumah Vira. Kemudian saya membersihkan tubuh Vira dan

menidurkannya. Ketika saya tinggal, saya mendengar ia merintih, “Jangan Pak,

ampun Pak, sakit.. ampuunn.. sakiit..”.
READ MORE - Cerita Cewek Diperkosa Polisi

Sabtu, 13 Juni 2009

Cerita SEX Cewex Chinese Diperkosa

Peristiwa ini terjadi tiga tahun yang lalu. Kejadiannya di Jakarta, di daerah
Sunter, aku yang berumur 14 tahun tinggal bersama kakak perempuanku, menempati
salah satu rumah yang dimiliki paman mereka. Kebetulan rumah itu tidak
ditempatinya. Saat itu kakakku, Ai Ling berumur 19 tahun dan telah kuliah
tingkat satu di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Kedua orang tua
kami tinggal di Jawa Tengah, dimana mereka mengelola sebuah toko. Karena dirasa
Jakarta lebih kondusif sebagai tempat menuntut ilmu, maka mereka mengirim kami
ke Jakarta untuk bersekolah.
Kakakku Ai Ling wajahnya cukup cantik mirip dengan bintang film dari Hongkong
atau Taiwan. Kulitnya putih mulus, karena memang kami adalah dari keluarga
keturunan chinese. Dengan tinggi di atas 160 cm bobot 50 kg, tubuhnya cukup
ideal untuk seorang gadis remaja. Sehingga tidaklah mengherankan kalau
teman-teman cowoknya banyak yang mendekatinya. Bahkan yang menyukainya tidak
hanya cowok keturunan chinese saja. Banyak pula teman-teman kuliah cowoknya yang
pribumi juga terang-terangan mendekatinya.
Di kampusnya memang antara pribumi dan non pribumi jumlahnya seimbang. Namun Ai
Ling tidak menanggapinya, karena sebetulnya Ai Ling telah mempunyai pacar yang
pada waktu itu sedang kuliah di Amerika. Selain aku dan Ai Ling, rumah tersebut
juga dihuni oleh seorang pembantu perempuan dan seorang sopir pribadi yang rutin
bertugas mengantar kami sekolah dan kuliah. Sopir kami bernama Sudin. Sebelumnya
ia bekerja sebagai tukang ojek.
Beberapa saat sebelum terjadi peristiwa tersebut, sebenarnya aku telah mempunyai
firasat yang kurang mengenakkan mengenai Sudin. Beberapa kali aku memergoki
Sudin sedang menatap dengan tajam bagian tubuh tertentu dari Ai Ling, jika
kebetulan Ai Ling sedang tidak menyadarinya. Memang kadang-kadang jika berada di
rumah dan sedang santai, Ai Ling sering mengenakan baju rumah yang cukup ketat.
Apalagi setelah pembantu perempuan kami pulang ke desanya, karena ada salah satu
anggota keluarganya yang sedang sakit keras, kadang-kadang Ai Ling hanya
sendirian dengan Sudin di dalam rumah karena jam sekolahku berbeda. Tetapi
untungnya pada malam hari Sudin tidak menginap di rumah kami.
Suatu malam saat aku dan Ai Ling sedang santai menonton TV di ruang tamu,
tiba-tiba Sudin muncul bersama dua orang temannya tukang ojek yang biasa
beroperasi di sekitar daerah itu. Sudin rupanya telah lama berniat akan merampok
rumah majikannya tersebut, karena hanya Nico dan Ai Ling saja yang tinggal di
rumah itu. Untuk melancarkan rencana tersebut, Sudin telah mengontak 2 orang
temannya yang bekas sesama tukang ojek, untuk membantunya melaksanakan maksud
tersebut. Pada hari dan waktu yang telah ditentukan mereka melaksanakan rencana
tersebut, karena itulah mengapa tiba-tiba mereka muncul malam itu di rumah kami.
Sambil mengancam dengan pisau, mereka memaksa kami untuk menunjukan
barang-barang berharga dan uang yang disimpan dalam lemari. Dengan ketakutan Ai
Ling menyerahkan barang-barang berharga milik kami seperti uang, arloji,
handphone, dll. Mereka kemudian masuk ke kamar Ai Ling untuk mengambil perhiasan
dan barang-barang berharga lainnya. Melihat kegarangan mereka hati kami menjadi
ciut. Kami berdoa dalam hati biarlah barang-barang tersebut diambil asalkan kami
tetap selamat.
Setelah selesai mengambil semuanya, tiba-tiba salah seorang teman Sudin berkata,
“Eh, ngomong-ngomong cewek ini boleh juga ya. Mending kita sikat saja sekalian.”
“Iya nih. Wajahnya cakep dan kulit mukanya putih, nggak tahu kalau bagian tubuh
yang lainnya”, kata yang lain sambil memandang kakakku dengan tersenyum-senyum.
“Wah, bener juga kata lu. Susunya montok tuh, ngelihatnya saja sudah bikin orang
ngaceng.., kita bisa pesta nih. Mimpi apa kita semalam. Apalagi kita belum
pernah ngerasain amoy. Yuk dah, kita garap rame-rame”, timpalnya lagi.
Saat itu kakakku baru pulang setelah pergi bersama temannya dan mengenakan kaos
berwarna merah yang cukup ketat. Sudin segera mendekati Ai Ling yang berdiri
ketakutan di pinggir tembok.
Tangannya dengan cepat meraba-raba pipi Ai Ling yang putih mulus, sambil ia
berkata pada teman-temannya, “Cewek manis ini, namanya Ai Ling. Aku sendiri
sebenarnya sudah lama pengen ngerasain dia. Apalagi dia suka banget pake pakaian
yang bikin orang terangsang. Hari ini kita bakalan puas deh”.
Dengan segera Ai Ling menampik tangan Sudin dan sambil menatap wajahnya dengan
menguatkan hatinya, Ai Ling mencoba menggertak Sudin, “Kurang ajar kamu yah. Aku
ini kan majikanmu, tega benar kamu hendak berbuat kurang ajar padaku!”
Bukannya takut Sudin malah makin berani, sahutnya, “Aku memang kacungmu yang
biasa diperintah-perintah, tapi kali ini kamulah yang akan menuruti kemauan
kami”, kata Sudin.
Tiba-tiba kedua tangannya dengan cepat meraih payudara Ai Ling dan segera
meremas-remasnya dengan ganas. Ai Ling yang telah tersandar pada tembok, tidak
dapat mengelaknya, “Adduhh.., jangaann..!”, jeritnya kaget mendapat perlakuan
kasar dari Sudin tersebut.
Melihat itu akupun menjadi emosi, seketika kuterjang Sudin dan memukulinya. Tapi
mereka kemudian mengeroyokku dan memukuliku sampai babak belur. Sementara Ai
Ling menjerit-jerit menyaksikan aku dipukuli oleh bajingan-bajingan itu.
“Kamu jangan macam-macam kalau tidak ingin kami bunuh!” hardik Sudin sambil
menampar mukaku.
“Jo, ikat dia. Biar dia ngeliat kita ngerjain kakaknya”, kata Sudin memerintah
temannya.
Kemudian mereka menyeretku ke kamar Ai Ling dan mengikatku di kursi dekat
ranjangnya. Setelah itu mereka menggotong Ai Ling yang terus memberontak,
kedalam kamarnya dan melemparnya ke atas tempat tidurnya.
“Ai Ling, dengar baik-baik, kalian akan kuampuni kalau kamu mau menuruti kemauan
kami. Kalau kamu melawan, adikmu akan kubunuh dan kau pun akan kubunuh setelah
kami puas menikmatimu. Saat ini tidak ada yang dapat menolong kalian”, kata
Sudin.
Sementara karena ketakutan diancam hendak dibunuh, akhirnya Ai Ling tidak berani
berteriak keras-keras dan pasrah dengan nasibnya. Segera dengan tidak
membuang-buang waktu mereka langsung mendekati Ai Ling yang masih terkapar di
atas tempat tidur dan mulai mengerubutinya. Sudin langsung mencium muka Ai Ling,
mula-mula hidung dan pipinya dijilat-jilatnya, seakan-akan sedang menikmati
betapa licin dan mulusnya pipi Ai Ling tersebut, akhirnya bibir Ai Ling
dilumatnya dengan ganas. Sementara kedua tangannya tidak tinggal diam, dengan
nafsu meraba-raba buah dada yang mulus padat itu, kemudian meremas-remasnya
dengan sangat bernafsu.
Dari mulut Ai Ling hanya terdengar jeritan lirih, “Aaagghh.., aagghh..,
jaangaann.., janngaann.., aammpunn.., aammppunn..!”, “.. Jaanngaann..,
peerrkoossaa.., saayyaa..!”.
Akan tetapi sambil tertawa-tawa Sudin berkata, “Tenang saja, nanti juga lo akan
merasa keenakan, niihh.., gimana rasanya, enak khan pijitanku. Susumu
benar-benar nikmat”, katanya sementara aktifitas kedua tangannya tetap masih
meremas-remas payudara Ai Ling.
Badan Ai Ling menggeliat-geliat, tapi dia tidak dapat menghindar karena kedua
teman Sudin masing-masing memegang kaki dan tangannya erat-erat sambil
tertawa-tawa. Lalu mereka tidak mau kalah dengan Sudin, salah seorang di
antaranya yang memegang kedua kaki Ai Ling, langsung menyingkap dan menarik
lepas rok Ai Ling, sehingga terlihat celana dalam merah muda dan kedua belah
paha Ai Ling yang putih mulus. Kemudian sambil menduduki kedua kaki Ai Ling,
kedua tangan orang tersebut segera mengelus-elus kedua paha Ai Ling yang sudah
setengah terpentang itu dengan bebas.
Tangannya mula-mula hanya bermain-main di kedua paha, naik turun, tapi akhirnya
secara perlahan-lahan mulai mengelus-elus belahan di antara kedua pangkal paha
Ai Ling yang masih ditutupi CD itu. Tidak cukup sampai di situ, bahkan salah
satu jari tengahnya dimasukan ke celana dalam Ai Ling dan dipaksakan masuk
kedalam kemaluan Ai Ling yang masih sangat rapat itu. Badan Ai Ling hanya bisa
menggeliat-geliat saja dan pantatnya bergerak menggeser ke kiri ke kanan mencoba
menghindari tangan-tangan yang menggerayangi paha dan kemaluannya itu.
Dari mulutnya tetap terdengar jeritan, “Jaangann.., jjanngann.., aadduuhh..,
aadduhh..!” dan dari kedua matanya mengalir air mata putus asa, kepalanya
digeleng-gelengkan ke kiri ke kanan, menahan rasa geli yang mulai merambat ke
seluruh tubuhnya. Secara perlahan-lahan pada bagian CD-nya yang menutupi belahan
liang kewanitaannya mulai terlihat membasah.
Rupanya tubuh Ai Ling tidak dapat menyembunyikan reaksinya atas perasaan
terangsangnya menerima perlakuan tersebut. Dengan kedua tangan yang dipegang di
atas kepalanya dan kedua kaki diduduki dan di saat bersamaan mulutnya
dilumat-lumat dengan ganas dan buah dadanya diremas-remas, serta elusan-elusan
disertai sentuhan-sentuhan jari pada klitorisnya, membuat suatu sensasi yang
tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata, tiba-tiba melanda perasaan Ai Ling,
perasaan putus asa, perasaan terhina dan ketidakberdayaan secara bersamaan
menimbulkan suatu penyerahan dan kepasrahan total yang mengakibatkan suatu
kenikmatan yang maha dahsyat melanda perasaan dan tubuh Ai Ling.
Sungguh menyakitkan memang menyaksikan peristiwa itu. Dimana sebuah tubuh putih
mulus dan cantik, sedang telentang lemas tanpa daya dikerubuti oleh tiga lelaki
kasar sopir dan tukang ojek yang bertubuh hitam tidak terawat dengan
tangan-tangan yang berkeliaran kemana-mana, benar-benar terlihat sangat kontras.
Akhirnya Sudin menyobek lepas kaos yang dikenakan Ai Ling, sehingga sekarang Ai
Ling hanya mengenakan BH dan celana dalam saja.
Sudin meraba-raba dan mengelus-elus buah dada Ai Ling yang masih tertutup BH-nya
sambil berkata, “Wah penasaran nih pingin lihat susunya amoy”. Katanya sambil
tersenyum-senyum.
Kemudian dengan perlahan-lahan Sudin membuka BH Ai Ling. Dan dengan terpesona
mereka menatap payudara Ai Ling yang sangat indah itu. Buah dada Ai Ling putih
mulus, tidak terlalu besar, masih sangat kencang berdiri tegak dengan ujung
putingnya yang coklat muda kecil, tapi terlihat sudah mengeras karena
dielus-elus dari tadi.
“Wah susu Ai Ling sangat bagus ya!” kata salah seorang dari mereka sementara
kedua tangannya mengusap-usap payudara Ai Ling dengan perlahan-lahan seakan-akan
terpesona, karena baru sekarang dia pernah melihat buah dada indah, yang
sedemikian putih dan halus itu.
“Wah putingnya coklat muda. Bikin tambah nafsu saja”, kata yang lain.
“Coba lihat ukuran BH-nya, eh BH-nya Triumph ukurannya 34 C”, kata salah seorang
dari mereka.
Kemudian ganti Sudin yang meraba-raba dan meremas-remas perlahan buah dada Ai
Ling. Yang seorang lagi yang dari tadi duduk pada kedua kaki Ai Ling, tidak mau
kalah juga, segera saja CD merah muda Ai Ling ditarik dengan kasar sehingga
sobek dan segera dicampakkannya ke pinggir, sehingga sekarang Ai Ling
benar-benar telah berada dalam keadaan polos, telanjang bulat tanpa selembar
benang pun yang melekat di tubuhnya, terkapar tak berdaya dengan tangan-tangan
hitam kasar mirip tangan-tangan gurita yang sedang menggerayangi lekuk-lekuk
tubuh yang molek itu.
Pada bagian bawah tubuh Ai Ling yang membukit kecil di antara kedua pahanya yang
putih mulus itu, kemaluannya yang kecil berbentuk garis memanjang yang
menggelembung pada kedua pinggirnya, tampak ditutupi oleh bulu kemaluannya yang
lebat yang berwarna coklat muda.
“Hehehe, lihat tuh jembutnya lebat sekali. Aku suka sama cewek yang satu ini”.
Kemudian teman Sudin langsung meraba-raba dan mengelus-elus bulu kemaluannya
sambil membuka kedua paha Ai Ling makin melebar. Terlihatlah liang vaginanya
yang masih rapat. Tangan hitam dan kasar itu segera menjamah liang yang sempit
itu sambil menggesek-gesekan jempolnya pada tonjolan daging kecil yang terletak
di bagian atasnya. Sementara puting susu Ai Ling sedang diisap-isap oleh Sudin
dengan lahapnya sambil sesekali mempermainkan putingnya dengan ujung lidahnya.
Sedangkan temannya yang satu lagi, yang dari tadi memegangi kedua tangan Ai
Ling, sekarang sedang melumat mulut dan kedua bibir Ai Ling dengan rakus dan
lidahnya dengan paksa dimasukkan ke dalam mulut Ai Ling dan mempermainkan lidah
Ai Ling. endapat perlakuan seperti itu, Ai Ling yang benar-benar telah tak berdaya,
hanya bisa menggeliat-geliat dan mendesis lirih, “Aaaghh.., sshh.., sshh..,
mmhh..!”.
Kemudian salah seorang dari mereka berkata kepada Sudin, “Din, kamu mulai duluan
aja yah..!”.
“OK.. ” kata Sudin dengan cepat dan segera menghentikan kegiatannya untuk
membuka baju sampai celana dalamnya.
Tampaklah batang kemaluannya yang telah tegang, berwarna hitam pekat, besar
dengan bagian kepalanya yang bulat mengkilat dan bagian batangnya yang
dikelilingi oleh urat-urat menonjol, terlihat sangat mengerikan. Setelah selesai
melepaskan seluruh bajunya, dengan cepat Sudin kembali naik ke tempat tidur dan
merangkak di atas badan Ai Ling. Sudin berjongkok di antara kedua paha Ai Ling,
yang dengan paksa dibuka melebar oleh teman Sudin yang memegang kedua kaki Ai
Ling. Mata Ai Ling terlihat terbelalak melihat benda hitam besar di antara kedua
paha Sudin itu. Badan Ai Ling terlihat bergetar halus, rupanya belum-belum Ai
Ling telah merasa ngilu pada kemaluannya membayangkan benda hitam besar itu
nantinya akan mengaduk-aduk kemaluannya dengan ganas.
Dengan sebelah tangan bertumpu pada ranjang di samping badan Ai Ling, tangan
Sudin yang satunya memegang batang penisnya dan dengan perlahan-lahan
digosok-gosokkannya pada bibir kemaluan Ai Ling. Begitu kepala penis Sudin
menyentuh klitoris Ai Ling, terlihat badan Ai Ling menjadi kejang dan agak
berkelejotan serta dari mulutnya yang sedang dilumat oleh teman Sudin terdengar
suara, “Eeehhmm..”
Sudin terus melakukan kegiatannya menggesek-gesek kepala penis pada bibir
kemaluan Ai Ling, yang akhirnya menjadi licin dan basah oleh cairan yang keluar
dari penis Sudin dan juga dari dalam kemaluan Ai Ling sendiri.
Merasakan bibir kemaluan Ai Ling yang telah basah itu, Sudin berkata, “Oohh
rupanya lo udah terangsang juga yaa..!”
Kemudian dengan perlahan-lahan Sudin mulai menekan kepala penisnya membelah
bibir kemaluan Ai Ling. Mendapat tekanan dari kepala penis Sudin, bibir kemaluan
Ai Ling tertekan ke bawah dan mulai terbuka dan karena kemaluan Ai Ling telah
basah, akhirnya kepala penis Sudin mulai terbenam ke dalam lubang kewanitaan Ai
Ling dengan mudahnya.
Disebabkan penis Sudin yang sangat besar, maka klitoris Ai Ling ikut tertarik
masuk kedalam lubang kemaluannya dan terjepit oleh batang penis Sudin yang
berurat menonjol itu. Hal ini menimbulkan perasaan geli dan sekaligus nikmat
yang amat sangat pada diri Ai Ling, sehingga disertai badannya yang
menggeliat-geliat, dengan tanpa sadar dari mulutnya terdengar suara, “Ooohh..”,
yang panjang, mengikuti tekanan penis Sudin pada kemaluannya.
Kedua pahanya terlihat mengejang dengan kuat. Merasakan hal ini, tanpa
menyia-nyiakan waktu Sudin langsung menekan habis rudalnya ke dalam vagina Ai
Ling dengan ganas.
“Aadduuhh.., sakiitt..!”, terdengar Ai Ling menjerit saat rudal Sudin itu
menerobos masuk ke dalam liang vagina Ai Ling.
Kemudian Sudin segera mendorong dengan sekuat tenaga sehingga seluruh barang
miliknya amblas seluruhnya, sampai kedua pahanya yang hitam itu menekan dengan
ketat paha putih mulus Ai Ling yang terkangkang itu. Memang ini bukan pertama
kalinya Ai Ling disetubuhi orang, karena sebelum pacarnya keluar negeri, mereka
sudap pernah melakukannya sekali, akan tetapi penis Sudin ini jauh lebih besar
dan panjang daripada penis pacarnya, sehingga ketika penis Sudin menerobos
masuk, meski kemaluan Ai Ling telah sangat basah, akan tetapi tetap saja Ai Ling
merasa pedih. Tanpa mengenal belas kasihan, Sudin mulai memaju-mundurkan
pantatnya, sehingga penisnya yang besar itu, keluar masuk berulang-ulang kedalam
kemaluan Ai Ling.
Sambil melakukan itu ia berkata, “Waahh, eenaak niih masih seret..!”
Sementara kedua temannya tetap sibuk mengelus-elus dan meremas-remas payudara
serta membelai-belai seluruh badan Ai Ling, sambil tertawa-tawa mendengar
perkataan Sudin. Sementara itu terlihat vagina Ai Ling memerah menerima tekanan
dan gesekan-gesekan dari penis Sudin yang besar itu.
“Waah.., gila sempit benar niihh, mimpi apa aku semalam”, kata Sudin.
Sambil terus menyetubuhi Ai Ling dengan ganas, Sudin berkata lagi, “Hey non..,
enak sekali lhhoo, benar-benar puas aku atas servismu ini.., ha.., ha.., ha..!”
Sambil tertawa-tawa dia mengocok tubuh Ai Ling habis-habisan. Sementara Ai Ling
hanya bisa merintih-rintih dan menjerit-jerit.
Suara jeritannya makin lama makin lemah, diganti oleh suara mendengus-dengus,
“Oohh.., oohh.., aadduhh.., aadduuhh..!”, dan badan Ai Ling tiba-tiba mengejang
dengan hebat sehingga bagian pinggangnya tertekuk ke atas, rupanya tanpa dapat
dicegahnya, Ai Ling mengalami orgasme dengan hebat, ada beberapa detik lamanya
badannya tersentak-sentak dan akhirnya Ai Ling terkulai dengan lemas dengan
kedua kakinya terkangkang lebar. Benar-benar Ai Ling mengalami kenikmatan yang
hebat yang tidak terelakkan walaupun sebenarnya itu bertentangan dengan
kemauannya, membuat pikirannya serasa melayang-layang.
Sekarang Sudin memegang kedua pinggul Ai Ling dan menariknya keatas, sehingga
pantat Ai Ling tidak terletak pada kasur lagi. Dengan posisi ini Sudin dengan
leluasa menancapkan penisnya dalam-dalam ke lubang kemaluan Ai Ling dengan tanpa
halangan. Sambil pantatnya dimajumundurkan, sekali-sekali Sudin menekan pantat
Ai Ling rapat-rapat ke tubuhnya dan memutar-mutar pinggul Ai Ling, sehingga
kemaluan Ai Ling mengocok-ngocok penis Sudin yang terbenam habis di dalamnya.
Terlihat bahwa tubuh Ai Ling menggeliat-geliat dan bergerak-gerak mengikuti
gerakan Sudin. Dan saking kerasnya dorongan pantat Sudin menekan pinggul Ai
Ling, kedua payudara Ai Ling mengikuti goyangan tersebut dengan bergerak-gerak
berputar-putar. Sementara mulut Ai Ling mendesah setiap kali Sudin menekan
penisnya dalam-dalam ke lubang kemaluannya.
“He.., he.., he.., akhirnya lo takluk juga yaa? Kalau nggak gini kan kamu nggak
tahu enaknya yang sebenarnya!” kata Sudin tanpa berusaha menghentikan
aktifitasnya.
Kedua teman Sudin menyaksikan hal tersebut sambil tertawa-tawa.
“Lihat susunya berputar-putar”, katanya. Kemudian akhirnya mereka semua
menanggalkan pakaiannya masing-masing sehingga akhirnya keempat orang di ranjang
tersebut semuanya telanjang bulat.
Tubuh Ai Ling yang putih mulus tersebut tampak kontras dengan tubuh hitam ketiga
lelaki yang sedang menggumulinya. Sementara Sudin menikmati kemaluan Ai Ling
sambil meremas-remas kedua payudaranya, yang lainnya juga ikut
menggesek-gesekkan penisnya pada tubuh Ai Ling. Bahkan salah seorang di
antaranya memasukkan penisnya ke mulut Ai Ling, memaksa Ai Ling untuk melakukan
oral sex. Pada saat yang bersamaan, Sudin memerintahkan Ai Ling untuk melakukan
pijit ala Thai yaitu memijat dengan kedua payudaranya. Ai Ling yang telah takluk
dan pasrah itu, hanya bisa menuruti kemauannya dengan menekan dan
menggesek-gesek susunya ke seluruh tubuh Sudin.
Sambil tertawa puas Sudin berkata, “Wah, baru kali ini aku ngerasain dipijat
sama susu amoy. Rasanya lebih enak daripada di Kramat Tunggak”.
Tak lama kemudian Sudin mengalami ejakulasi dan menumpahkan seluruh spermanya ke
dalam vagina Ai Ling. Tampak ia terengah-engah. Setelah itu giliran rekan Sudin
satunya, Jo yang merasakan vagina Ai Ling. Mula-mula ia melakukannya dalam
posisi Ai Ling terduduk lalu dalam posisi doggy style. Sambil melakukannya ia
menepuk-nepuk payudara Ai Ling yang bergerak-gerak. Sementara ia melakukan itu,
teman satunya yang berambut Gondrong berada di depan Ai Ling, memaksanya untuk
memasukkan penisnya ke dalam mulut Ai Ling, sehingga akhirnya Ai Ling terpaksa
mengulum penisnya. Goyangan orang yang di belakang menggerakkan seluruh tubuh Ai
Ling sehingga si Gondrong di depan jadi merem melek nikmat karena penisnya
dikocok oleh mulut Ai Ling.
Selang sesaat mereka berganti posisi, si Gondrong yang mulanya dikulum sekarang
berganti menikmati vagina Ai Ling sementara Jo dikulum penisnya. Setelah itu ia
berdiri dan menyuruh Ai Ling untuk berlutut di depannya dan memasukkan penisnya
ke dalam mulut Ai Ling. Ai Ling diperintahkan mengulum dan menjilati penisnya
seolah-olah seperti permen lolipop. Ketika Ai Ling melakukannya, ia berkacak
pinggang dan tertawa-tawa.
Sementara itu si Gondrong asyik meraba-raba dan menggesek-gesek klitoris dan
bibir vagina Ai Ling, sehingga hal ini membuat badan Ai Ling
menggelinjang-gelinjang dan dari mulutnya yang tersumbat penis Jo, terdengar
erangan tertahan, “Eehhmm.., eehhmm.. “, setelah itu kedua tangan Jo yang semula
berkacak pinggang, mulai meremas-remas buah dada Ai Ling yang tergantung bebas
itu. Setelah puas dengan permainan itu, kemudian mereka menelentangkan Ai Ling
di atas ranjang dan lelaki yang Gondrong menggesek-gesekkan penisnya ke buah
dada Ai Ling dan kemudian dia menduduki dada Ai Ling dan menjepitkan penisnya
diantara kedua gundukan daging kenyal tersebut, sambil mendorong pantatnya maju
mundur, sehingga penisnya menggesek-gesek di antara kedua gundukan buah dada Ai
Ling tersebut.
Kemudian mereka berganti posisi lagi. Kali ini giliran si Gondrong yang
memasukkan penisnya ke dalam vagina Ai Ling. Ia melakukannya pada Ai Ling yang
dalam posisi tidur miring. Sementara itu Jo bersimpuh di depan wajah Ai Ling dan
lagi-lagi memasukkan penisnya ke dalam mulut Ai Ling. Kemudian ganti Jo yang
memasukkan barangnya ke dalam kemaluan Ai Ling. Pada saat akan ejakulasi, ia
mengeluarkan penisnya dan memuncratkan air maninya di payudara Ai Ling.
Si Gondrong berkata, “Eh, sialan lu padahal gua mau ngemut susunya. Eh lu
semprot dengan peju lu”.
Mendengar itu, mereka semua pada tertawa. Setelah itu Jo ‘meratakan’ spermanya
ke seluruh bagian dada Ai Ling, sehingga tubuh Ai Ling menjadi basah mengkilap
oleh spemanya. Akhirnya kembali si Gondrong yang menikmati Ai Ling. Ia
melakukannya dalam posisi duduk sementara Ai Ling telentang di depannya. Ia
merentangkan kedua paha Ai Ling lebar-lebar dan memegangi pinggulnya sementara
ia memasukkan penisnya ke dalam kemaluan Ai Ling. Setelah itu ia memasukkan
penisnya ke mulut Ai Ling yang duduk di depannya. Pada saat akan ejakulasi, ia
menyemprotkan air maninya ke muka dan rambut Ai Ling dan melapnya ke seluruh
bagian muka Ai Ling. Kemudian ia menyuruh Ai Ling untuk menjilati sisa sperma di
batang penisnya sampai bersih.
Setelah itu kembali Sudin meminta Ai Ling mengulum penisnya sampai ia mengalami
ejakulasi kedua. Pada saat ejakulasi, ia menumpahkan seluruh spermanya di dalam
mulut Ai Ling, sehingga Ai Ling terpaksa menelan seluruh sperma yang
dikeluarkannya. Setelah itu Sudin memerintahkan Ai Ling menjilati sisa sperma di
penisnya sampai licin mengkilat. Dengan demikian maka akhirnya puaslah sudah
ketiga laki-laki bejat tersebut menikmati tubuh mulus Ai Ling.
Sambil tertawa-tawa si Gondrong berkata, “Kita puas deh hari ini. Kamu memang
dapat memuaskan laki-laki. Kami semua senang bisa menikmati kamu”.
“Kamu tentunya puas juga khan merasakan nikmatnya kontol-kontol kami. Gimana
rasanya, enak khan dinikmati oleh supir dan tukang ojek..!”, kata Sudin.
“Gila nih cewek. Cakep-cakep gini ternyata suka nenggak peju”, timpal Jo. Mereka
semua tertawa mendengar perkataan Jo.
“Ayo ah kita cabut. Kita udah puas nih. Terima kasih ya atas barang-barangnya
serta ‘bonus istimewanya’”, kata Sudin.
Setelah puas akhirnya mereka membawa barang-barang jarahannya dan meninggalkan
Ai Ling dalam keadaan lemas dan telanjang bulat serta menangis terisak-isak.
Masih terlihat bekas cairan air mani belepotan di seprei. Sejak saat itu Sudin
dan kawan-kawannya menghilang dari daerah itu.
*****
Untunglah Ai Ling orangnya cukup tegar. Setelah menjalani terapi dengan dokter
ahli, Ai Ling akhirnya secara perlahan-lahan dapat sembuh dan dapat melupakan
peristiwa tragis itu. Setelah cuti satu tahun Ai Ling melanjutkan kuliahnya
lagi. Ia juga dapat bergaul dengan teman-temannya seperti sebelumnya. Hal yang
paling menguntungkan adalah Ai Ling tidak hamil oleh peristiwa itu. Walaupun
satu hal yang tidak dapat disangkal lagi adalah bahwa Ai Ling pernah diperkosa,
hal ini kami rahasiakan, hanya keluarga terdekat kami saja yang mengetahuinya.
E N D
READ MORE - Cerita SEX Cewex Chinese Diperkosa

Rabu, 10 Juni 2009

Sex Waktu Camping Di Gunung

Pembaca yang budiman, nama saya Intan dan sekarang saya tengah berumur 22 tahun.
Saya pernah punya pengalaman yang indah, dan tidak akan pernah terlupakan seumur
hidup saya. Inilah pengalaman saya merasakan hubungan sex yang pertama kali
dalam hidup saya.
Ketika itu saya masih berumur 16 tahun dan sedang duduk di bangku SMU swasta di
kota Yogyakarta. Pada saat itu sekolah akan mengadakan camping bersama di daerah
“P” yang merupakan hutan yang sangat lebat. Singkat cerita setelah segala
sesuatunya beres, kami segara berangkat pada pukul 07.00 pagi.
Setibanya di sana kami segera mendirikan tenda dan tentu saja saya ikut kelompok
putri. Pak Iwan yang merupakan pembina Pramuka di sekolahku keliling untuk
mengecek ke tenda para siswa untuk memastikan lebih lanjut. Pukul 15.00 kami
mengadakan upacara pembukaan yang dihadiri oleh kepala sekolah. Pembukaan itu
berlangsung dengan meriah.
Pada hari kedua acaranya adalah pengembaraan. Kami segera bersiap-siap untuk
mengikuti acara tersebut. Selain route yang kami tempuh cukup jauh, pengembaraan
itu pun dilakukan pada malam hari dan berakhir di sebuah tanah pemakaman.
Katanya sich untuk pengetesan mental, ah.. saya tidak tahu lah.
Regu kami pun berangkat dengan berbekal senter, makanan sebagai bekal, serta
baju hangat karena hawa disana sangat dingin sekali. Kami telah tiba di sebuah
tanah pemakaman yang sangat luas dibanding tanah pemakaman yang ada di kota
Yogyakarta. Pemakaman itu sampai memenuhi beberapa bukit saking luasnya. Disana
kami disuruh masuk satu-persatu. Rasa takut kamudian menguasai diri saya, karena
selain saya perempuan, pekuburan itu sudah sangat tua.
Setelah berjalan beberapa puluh meter, tiba-tiba sebuah tangan yang sangat kekar
menarik tubuh saya dan yang satunya mendekap mulut saya, sehingga saya tidak
dapat berteriak sedikit pun. Saya tidak dapat melihat sosok yang mendekap saya
karena malam sudah terlalu gelap kecuali sinar temaram bulan purnama. Waktu itu
waktu sudah sekitar jam 2 pagi. Saya dibawa jauh sekali hingga sampai ke sungai.
Tangan kekar itu lalu mengikat tangan saya dan menutup mata saya dengan kain.
Saya mencoba berteriak, namun derasnya sungai membuat suara saya hampir tidak
terdengar. Saya merasakan baju saya dibuka perlahan. Saya hanya dapat menangis
tidak mampu berbuat apa-apa. Kemudian tangan kekar itu mulai membuka rok,
membuat hawa dingin langsung menyergap tubuh saya dan saya langsung menggigil.
Kemudian saya merasakan bibir saya dicium dam dilumat. Dalam keadaan panik
seperti itu saya hanya dapat terdiam menangis dalam hati mengutuk keadaan yang
membuat saya seperti ini.
Namun saya mulai berhenti menangis dan mulai merasakan kenikmatan ketika
payudara saya yang masih terbungkus BH diusap-usap dengan lembut, sementara
bibir masih dilumat. Akhirnya libido saya mulai naik, saya mulai mengeluarkan
desisan-desisan tertahan. Akhirnya ikatan tangan pun dilepaskan. Saya hanya
dapat meraba tubuh yang kekar sedang menikmati tubuh saya.
“Shh.. oh..!” hanya itu yang dapat keluar dari mulut saya ketika tangan itu
mengusap vagina yang masih tersembunyi di balik celana saya dalam dengan lembut.
Akhirnya penutup mata dibuka setelah saya mulai ‘jinak’. Namun alangkah kagetnya
saya ketika saya ketahui kalau orang itu adalah Pak Iwan, pembina Pramuka di
sekolah kami.
“Pak..?” kata saya ketakutan.
“Tenang Sayang.. Bapak akan membawamu ke puncak keindahan yang belum pernah kau
rasakan..!” kata Pak Iwan mulai melepas kaitan BH.
Karena nafsu sudah merasuki tubuh ini, saya tidak menolak bahkan mulai melepas
celana Pak Iwan. Bagai tahanan yang sudah lama terpenjara, anunya Pak Iwan
tiba-tiba melonjak seakan hendak menghirup angin segar.
Pak Iwan mulai mengelus payudara saya dengan mencubit puntingnya, kontan gairah
saya langsung memuncak. Namun Pak Iwan begitu pandai memainkan perasaan seorang
wanita. Dia mulai menjilati payudara saya hingga saya kelojotan.
“Sshh.. Pak.. oh..!” hanya itu yang dapat keluar dari mulut ini, sementara tubuh
saya mulai belingsatan.
Saya hanya mencengkram semak belukar karena tidak kuat menahan rasa geli dan
nikmat yang tiada tara.
Pak Iwan kemudian menarik celana dalam saya hingga saya sudah bugil total.
Perlahan diusapnya vagina saya yang mulai ditumbuhi bulu itu dengan lembut
sekali.
“Ooughh.., Pak.. nikmat Pak. Terusin Pak..!” kata saya yang ditanggapi Pak Iwan
dengan tersenyum menatap saya.
Gairah yang telah meledak ini membuat saya kehilangan akal sehat. Saya pun
merasakan kenikmatan yang tiada tara ketika ada cairan kental mendesak keluar
dari rahim saya. Mungkin itulah yang kata orang disebut orgasme. Ah.., saya
tidak perduli, intinya saya langsung lemas bagai tidak bertulang.
Saya masih lemas ketika Pak Iwan menyodorkan kemaluannya ke arah mulut saya.
Dengan penuh nafsu saya mulai menjilati kemaluannya yang kira-kira panjangnya 21
cm dan berdiameter 5 cm itu. Otomatis gairah saya langsung naik, apalagi ketika
Pak Iwan menjilati vagina saya. Kami sempat melakukan posisi 69.
“Ohh.., kau hebat In.. tan.., ouh..!” desahnya.
“Bapak Ju.. ju.. ga he.. bat..! Uhh..!” balas saya.
“Bapak mau keluar Intan. Jangan dilepas ya..?” pintanya sambil tetap melakukan
kegiatannya pada kemaluan saya.
“Hh.., iya Pak.., Intan juga mau.. kel.. aahh..! Crot.. crot..!” saya kembali
mengalami orgasme untuk yang kedua kalinya bersamaan dengan Pak Iwan.
Saat itu mulut saya serasa dipenuhi sperma Pak Iwan yang terasa manis. Langsung
saya telan saja semua sprema itu tanpa tersisa.
Pak Iwan berbaring di samping tubuh saya sambil meremas kedua payudara saya.
Kami berdua sama-sama lemas. Tapi belaian Pak Iwan kembali membangkitkan gairah
saya. Tangan saya perlahan mulai mengocok penis Pak Iwan yang mulai tegak. Kini
kami sudah sama-sama bergairah kembali. Pak Iwan membantu merenggangkan paha
saya yang sudah pasrah menerima agresi kenikmatan Pak Iwan.
“Tahan ya Sayang..! Mungkin ini agak sakit..,” kata Pak Iwan menghibur saya.
“Udah Pak.., masukin saja..! Intan sudah nggak tahan nich..!” pinta saya tidak
sabaran.
Perlahan Pak Iwan mulai menyerang saya. Rasa sakit dan perih saya caba tahan
dengan sedemikian rupa, tapi, “Aawww.., Pak..! Sa.. kit..!”
Pak Iwan kemudian menghentikan serangannya untuk memberikan kesempatan kepada
saya untuk menarik napas sebentar.
Tiba-tiba, “Bleess..! Aauwww..!” pekik saya.
Seluruh kemaluan Pak Iwan telah menembus keperawanan saya, rasanya nyeri sekali.
Perlahan-lahan Pak Iwan mulai mengayunkan kemaluannya dengan teratur.
“Pak.., sakit..!” kata saya sambil menggigit jari.
Namun Pak Iwan seakan tidak mendengarkan perkataan saya, dia terus saja
menggenjot kemaluan saya yang kesakitan. Namun setelah agak lama, saya tidak
lagi merasa sakit karena telah berganti dengan rasa nikmat.
“Ohh.., Pak. Nikmat Pak..! Terus Pak..! Ohh..!” hanya itu yang dapat saya
ucapkan karena kenikmatan telah menguasai diri saya malam itu.
Tiba-tiba saya merasakan dorongan yang mendesak dari dalam rahim saya ini.
Rupanya saya akan orgasme lagi.
“Pak.., Intan mau keluar nih..!” kata saya memelas.
Tapi Pak Iwan tidak menggubris saya, dia terus menggenjot pantatnya hingga saya
mengalami orgasme yang ketiga kalinya. Kaki saya melingkar di pinggang Pak Iwan
memaksanya menghentikan kegiatannya.
Hingga ketika saya mulai melemaskan kaki ini, Pak Iwan kembali melaksanakan
kegiatannya. Rupanya dia belum Orgasme. Dia terus menggenjot tubuh saya hingga
saya belingsatan bagai cacing kepanasan.
“Oh.., terus Pak..! Nikmat sekali..!” ceracau saya yang membuat Pak Iwan tambah
bergairah.
“Intan.. Bapak mau keluar nich..! Dikeluarin di dalam.., atau di luar saja..?”
“Oh.., di dalam saja Pak.., Intan juga mau keluar nih..!”
Pak Iwan semakin mempercepat genjotannya, sedang saya menggoyang-goyangkan
pantat ini di atas batu sugai dengan gerakan memutar.
Hingga akhirnya, “Pak.., Intan mau keluar..!”
“Bapak juga Sayang..!” kata Pak Iwan sambil mempercepat ayunan pantatnya.
Tangannya meremas payudara saya dengan keras membuat saya tambah belingsatan.
“Crot.., crot..!” kami orgasme lagi dalam waktu yang bersamaan.
Terasa hangat sperma Pak Iwan di dalam vagina saya. Kemudian tanpa mengeluarkan
kemaluannya, Pak Iwan terbaring lemas menindih tubuh saya yang bersimbah
keringat. Udara pagi yang dingin telah kalah oleh gairah tubuh yang membara. Pak
Iwan mencium bibir saya lagi.
“Hosh.. hosh.. kamu hebat Sayang. Hosh-hosh..!” kata Pak Iwan memeluk tubuh yang
mungil ini.
“Bapak juga hebat.” kata saya membalas ciuman Pak Iwan.
Pada saat itu saya baru menyadari kalau saya sudah tidak perawan lagi. Tapi toh
saya tidak menyesal bercumbu dengan Pak Iwan. Dia memang laki-laki yang perkasa.
Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 06.00 pagi. Saya mandi bersama Pak
Iwan di sungai yang dingin. Pak Iwan masih sempat membuat saya orgasme sekali
sebelum kami pulang ke bumi perkemahan.
Sejak saat itu setiap ada kesempatan, saya dan Pak Iwan pasti melakukannya lagi.
Saya benar-benar ketagihan. Itulah pengalaman saya yang tidak akan pernah saya
lupakan. Hingga saat ini pun saya dengan pacar saya sering melakukan hubungan
badan.
READ MORE - Sex Waktu Camping Di Gunung

Jumat, 29 Mei 2009

Cerita Sex Si Pengantin Baru

Rina mematut diri di depan cermin. Ini adalah hari yang paling dinantikannya, hari pernikahannya. Ada banyak alasan mengapa akhirnya dia bersedia menikah dengan Hans. Dan seks adalah salah satunya, meskipun Hans hanya mempunyai sebuah penis yang kecil saja. Namun seks dengan lelaki lain menjadi jauh lebih menyenangkan meskipun sejak Hans telah menyematkan sebuah cincin berlian di jarinya. Dia merasa bersalah dan membutuhkannya dalam waktu yang bersamaan, setiap kali dia merasakan cincin tersebut di jarinya saat lelaki lain sedang menyetubuhi vaginanya yang dijanjikannya hanya untuk Hans.
Dia ingat saat malam dimana Hans melamarnya. Dia tersenyum, mengangguk dan berkata ‘ya’, menciumnya dan menikmati bagaimana nyamannya rasa memakai cincin berlian yang sangat mahal tersebut. Dan setelah makan malam bersama Hans itu, dia langsung menghubungi Alan, begitu mobil Hans hilang dari pandangan, mengundangnya datang ke rumah kontrakannya. Rina menunggu Alan dengan tanpa mengenakan selembar pakaian pun untuk menutupi tubuhnya yang berbaring menunggu di atas tempat tidurnya, cincin berlian yang baru saja diberikan oleh Hans adalah satu-satunya benda yang melekat di tubuh telanjangnya.
Ada desiran aneh terasa saat matanya menangkap kilauan cincin berlian itu sewaktu tangannya menggenggam penis gemuk Alan. Tubuhnya tergetar oleh gairah liar saat tangannya mencakup kedua payudaranya dengan sperma Alan yang melumuri cincin itu. Dan orgasme yang diraihnya malam itu, yang tentu saja bersama lelaki lain selain tunangannya, sangat hebat. Tangan yang tak dilingkari cincin menggosok kelentitnya dengan cepat sedangkan dia menjilati sperma Alan yang berada di cincin berliannya. Dia menjadi ketagihan dengan hal ini dan berencana akan melakukannya lagi nanti pada waktu upacara perkawinannya nanti.
Saat ini, dia memandangi pantulan dirinya di dalam cermin sedang mengenakan gaun pengantinnya. Dia terlihat menawan, dan dia sadar akan hal itu. Rina tersenyum. Dia membayangkan nanti pada upacara pernikahannya, teman-teman Hans akan banyak yang hadir dan akan banyak lelaki lain yang akan dipilihnya salah satunya untuk memenuhi fantasi liarnya. Vaginanya berdenyut, dan dia membayangkan apa yang akan dilakukannya untuk membuat hari ini lebih komplit dan sempurna saat lonceng berbunyi nanti.
Saat dia membuka pintu, ayah Hans, Darma, sedang berdiri di sana, bersiap untuk menjemput dan mengantarnya ke gereja. Rina menarik nafas dalam-dalam. Dia tahu lelaki di hadapannya ini sangat merangsangnya. Beberapa bulan belakangan ini dia telah berusaha untuk menggodanya, dan dia pernah mendengar bahwa lelaki ini melakukan masturbasi di kamar mandi saat dia datang berkunjung ke rumah Hans dengan menyebut namanya. Rina belum tahu pasti apakah akan mudah nantinya untuk menggoda Darma agar akhirnya mau bersetubuh dengannya, tapi sekarang dia akan mencari tahu tentang hal tersebut. Dia tersenyum lebar saat menangkap mata Darma yang menatap tubuhnya yang dibalut gaun pengantin ketat untuk beberapa saat.
“Ayah” tegurnya, dan memberinya sebuah ciuman kecil di pipinya. Parfumnya yang menggoda menyelimuti penciuman Darma.
“Ayah datang terlalu cepat, aku belum siap. Tapi ayah dapat membantuku.”
Digenggamnya tangan Darma dan menariknya masuk ke dalam rumah kontrakannya, tempat yang akan segera ditinggalkannya nanti setelah menikah dengan Hans. Darma mengikutinya dengan dada yang berdebar kencang. Ini adalah saat yang diimpikannya. Dia heran bagaimana anaknya yang pemalu dan bisa dikatakan kurang pergaulan itu dapat menikahi seorang wanita cantik dan menggoda seperti ini, tapi dia senang karena nantinya dia akan mempunyai lebih banyak waktu lagi untuk berdekatan dengan wanita ini.
“Apa yang bisa kubantu?” tanya Darma. Rina berhenti di ruang tengahnya yang nyaman lalu duduk di sebuah meja.
“Aku belum memasang kaitan stockingku.. Dan sekarang, dengan pakaian ini.. Aku kesulitan untuk memasangnya.” jawab Rina.
Suaranya terdengar manis, tapi matanya berkilat liar menggoda. Diangkatnya tepian gaun pengantinnya, kakinya yang dibungkus dengan stocking putih dan sepatu bertumit tinggi langsung terpampang.
“Bisakah ayah membantuku memasangnya?” pinta Rina.
Darma ragu-ragu untuk beberapa waktu. Jantungnya berdetak semakin cepat. Apakah ini sebuah ‘undangan’ untuk sesuatu yang lain lagi, ataukah hanya sebuah permintaan tolong yang biasa saja? Lalu dia mengangguk.
“Oh, tentu..” jawab Darma akhirnya.
Dia berlutut di hadapan calon istri anaknya dan bergerak meraih kaitan stockingnya. Jemarinya sedikit gemetar saat Rina dengan pelan mengangkat kakinya. Darma berusaha untuk memasangkan kaitan stocking itu. Rina menggigit bibir bawahnya menggoda, dan lebih menaikkan gaunnya, menampakkan paha panjangnya yang dibalut stocking putih.
Dia dapat merasakan sebuah perasaan yang tak asing mulai bergejolak dalam dadanya., sebuah tekanan nikmat yang membuat nafasnya semakin sesak, membuat nafasnya semakin memburu, dan membuatnya semakin melebarkan kakinya. Dia dapat merasakan cairannya mulai membasahi. Kaitan itu akhirnya terpasang di sekitar lututnya. Darma menghentikan gerakannya, tak yakin apakah dia sudah memasangkannya dengan benar.
“Ayah, seharusnya lebih ke atas lagi..”
Tangan calon ayah mertuanya yang berada sedikit di bawah vaginanya membuatnya menjadi berdenyut dengan liar. Keragu-raguan itu hanya bertahan untuk beberapa saat saja. Tangan Darma menarik kaitan itu semakin ke atas saat calon istri anaknya meneruskan mengangkat gaun pengantinnya semakin naik. Dia menelan ludah membasahi tenggorokannya yang terasa kering saat akhirnya kaitan itu terpasang pada tempatnya di bagian paling atas stockingnya.
Dia yakin dapat mencium aroma dari vagina Rina sekarang, yang membuat jantungnya seakan hendak melompat keluar dari dadanya. Tangannya berhenti, kaitan stocking itu melingkari bagian atas paha Rina.. Dan dia merasakan bagian gaun pengantin itu terjatuh saat Rina melepaskan sebelah pegangannya untuk meraih bagian belakang kepalanya dan mengarahkan wajah ayah calon suaminya mendekat ke vaginanya, dan Darma menemukan bahwa tak ada celana dalam yang terpasang di sana.
Rina melenguh dan memejamkan matanya saat harapannya terkabul. Darma tak memprotes atau menolaknya, lidahnya menjilat tepat pada bibir vaginanya, dan Rina semakin basah dengan cairan gairahnya. Dengan sebelah tangan yang masih menahan gaun pengantinnya ke atas, dan yang satunya lagi menekan wajah calon mertuanya ke vaginanya yang terbakar, dia mulai menggoyangkannya perlahan.
Ini serasa di surga, dan menyadari apa yang diperbuatnya tepat di hari pernikahannya membuat tubuhnya semakin menggelinjang. Dia mengerang saat lidah Darma memasuki lubangnya, dan lidah itu mulai bergerak, menghisap bibir vaginanya, menjilati kelentitnya, wajah Darma belepotan dengan cairan kewanitaan calon istri anaknya di ruang tengah rumah kontrakannya. Semakin Rina menggelinjang, semakin keras pula Darma menghisapnya.
“Oh ya ayah.. Jilat vaginaku.. Buat aku orgasme sebelum aku mengucapkan janjiku pada putramu.. Kumohon..”
Perasaan bersalah akan apa yang mereka perbuat membuat Rina dengan cepat meraih orgasmenya, dan hampir saja dia roboh menimpa Darma. Ini bukan seperti orgasme yang biasa diraihnya, ini seperti rangkaian ombak yang menggulung tubuhnya, merenggut setiap sel kenikmatan dari dalam tubuhnya. Cairan Rina terasa nikmat pada lidah Darma, dia menjilat dan menghisap vaginanya seperti seorang lelaki yang kehausan. Penisnya terasa sakit dalam celananya, cairan precum-nya membasahi bagian depan tuxedonya.
Rina kembali menggelinjang, lalu dengan pelan bergerak mundur, membiarkan gaun pengantinnya menutupi ayah Hans. Lalu dia membuka resleting di bagian belakang gaunnya dan membiarkannya jatuh menuruni tubuhnya. Dia melangkah keluar dari tumpukan gaun pengantinnya yang tergeletak di atas lantai dengan hanya mengenakan sepatu bertumit tingginya, bra, dan tentu saja stocking beserta kaitannya yang baru saja dipasangkan Darma pada pahanya. Rina tersenyum padanya, vaginanya berkilat dengan cairannya.
“Aku akan ke kamar mandi untuk membetulkan make-up, kalau ayah memerlukan sesuatu..” dia berkata dengan mengedipkan matanya.
Darma menatapnya melenggang dan menghilang di balik pintu, begitu feminin dan menggoda. Hanya beberapa detik kemudian dia menyusulnya. Saat dia memasuki kamar mandi dan berdiri di depan sebuah cermin di atas washtafel, dia sudah mengenakan sebuah celana dalam berwarna putih. Darma tahu bahwa ini adalah salah satu godaannya yang manis, dan dia telah siap untuk bermain bersamanya.
Rina melihatnya masuk, dan dengan sebuah gerakan yang cantik membuka lebar pahanya. Darma melangkah ke belakangnya, mata mereka saling terkunci dalam masing-masing bayangannya dalam cermin. Tangan Darma bergerak ke bagian depan tubuhnya, menggenggam payudaranya yang masih ditutupi bra. Rina tersenyum.
“Tapi ayah, bukankah ini tak layak dilakukan oleh seorang ayah calon pengantin pria?”
Darma memandangi bagaimana bibir Rina yang membuka saat bicara, mendengarkan hembusan hangat nafasnya, seiring dengan tangannya yang meremasi payudaranya dalam balutan bra.
“Tak selayak apa yang akan kulakukan padamu.”
Rina menggigit bibirnya dan mendorong pantatnya menekan penisnya yang mengeras.
“Aku sudah tidak sabar,” bisiknya.
Sejenak kemudian Rina merasakan tangan calon ayah mertuanya berada di belakangnya saat dia melepaskan sabuk dan membiarkan celananya jatuh turun. Dengan mudah tangan Darma menarik celana dalamnya ke samping. Rina menarik nafas dalam-dalam saat dia merasakan daging kepala penis Darma menekan bibir vaginanya yang masih basah.. Dia mengerang dan memegangi tepian washtafel saat dengan perlahan Darma mulai mendorongkan batang penis itu memasukinya. Rina merasakan bibir vaginanya menjadi terdorong ke dalam, merasakan dinding bagian dalamnya melebar untuk menerimanya.
“Apa ini terasa lebih baik daripada penis putaku?” Darma tersenyum puas.
Dia tahu dengan pasti berapa ukuran penis putranya, dan dia yakin kalau putranya mewarisinya dari garis ibunya. Vagina calon istri putranya terasa sangat menakjubkan pada batang penisnya, dengan cepat dia sadar bahwa dia layak untuk menyetubuhi calon menantunya lebih sering dibandingkan putranya. Dan dia mendapatkan firasat bahwa dia bisa melakukannya kapan pun mereka memiliki kesempatan.
“Oh brengsek!! Ya Ayah.. Ayo.. Beri aku yang terbaik untuk merayakan pernikahanku dengan putra kecilmu.”
Dia lebih membungkuk ke bawah, dan merasakan tangan Darma pada pinggulnya. Dia mencengkeramnya dengan erat dan mulai memompanya keluar masuk. Mereka sadar akan terlambat menghadiri upacara pernikahan, tapi Darma memastikan agar vagina sang mempelai wanita benar-benar berdenyut menghisap sehabis persetubuhan keras yang lama. Rina mengerang, menjerit dan bergoyang pada batang penis itu mengimbangi gerakannya. Mereka saling memandangi bayangan mereka berdua di dalam cermin saat menyalurkan nafsu terlarang mereka.
Rina merasa teramat sangat nakal, disetubuhi dengan layak dan keras oleh ayah calon suaminya tepat sebelum upacara pernikahannya. Darma merasakan vaginanya mengencang pada batang penisnya, dan kali ini, dia merasa seluruh tubuh Rina mengejang sepanjang orgasmenya. Wanita ini adalah pemandangan terindah yang pernah disaksikannya, punggungnya melengkung ke belakang ke arahnya seperti sebuah busur panah yang direntangkan, matanya melotot indah, mulutnya ternganga dalam lenguhan bisu. Darma bahkan dapat merasakan pancaran dari orgasmenya menjalari batang penisnya saat dia tetap menyetubuhinya.
Dia telah membuatnya mendapatkan orgasme seperti ini selama tiga kali, hingga dia nyaris roboh di atas washtafel, menerima hentakannya, vaginanya hampir terasa kelelahan untuk orgasme lagi. Tapi Darma tahu bagaimana membawanya ke sana.
“Kamu mengharapkan spermaku, iya kan, Rina? Kamu ingin agar aku mengisimu dan membuat vaginamu terlumuri spermaku yang sudah mengering saat berjalan di altar pernikahanmu, benar kan wanita jalangku?”
“Oh ya.. Yaa!”
Sang pengantin wanita mulai kesulitan bernafas, dan Darma dapat merasakan vaginanya menyempit. Darma melesakkan batang penisnya sedalam yang dia mampu, dengan setiap dorongan yang keras, dan segera saja dia merasakan sensasi terbakar itu, dan dia tahu bahwa dia tak mampu menahannya lebih lama lagi. Tepat saat penisnya melesak jauh ke dalam vagina calon istri putranya, menyemburkan cairan sperma yang banyak ke dalam kandungannya, dia merasakan tubuh Rina menegang dan orgasme sekali lagi.
Dicabutnya batang penisnya keluar, menyaksikan lelehan sperma yang mengalir turun di pahanya menuju ke kaitan stocking pernikahan Rina. Darma tersenyum.
“Aku akan menunggu di mobil, Rina..”
Perlahan Rina bangkit, masih menggelepar karena sensasi itu, wajahnya memerah, lututnya lemah, vaginanya berdenyut dan bocor.
“Mm, baiklah Ayah.”
Dia memutuskan untuk melakukan ‘tradisinya’ dengan mengorek sperma ayah Hans dari pahanya dengan jari tangan kirinya yang dilingkari oleh cincin berlian pemberian Hans.
Saat Darma melihat mempelai wanita putranya masuk ke dalam mobil, sudah rapi dan bersih, terlihat segar serta berbinar wajahnya dan siap untuk upacara pernikahan, sedangkan bayangannya yang terpantul dari kaca mobil adalah saat Rina memandang tepat di matanya dan menjilat spermanya dari cincin berlian pemberian putranya..
Free Download sex video, download sex movie, download porn movie, free download video sex, download video mesum, download film bokep gratis, download bokep cina, download bokep jepang, download video mesum gratis. KEEP THIS SITE JUST AT http://vagina-oversize.blogspot.com/
READ MORE - Cerita Sex Si Pengantin Baru